Lensa Maluku – Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) bernilai miliaran rupiah dari aktivitas ekonomi di Pasar Mardika, Kota Ambon, diduga tidak tergarap maksimal. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius dari kalangan pelaku usaha dan organisasi pedagang, yang menilai ada persoalan mendasar dalam tata kelola pasar terbesar di Maluku tersebut.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPD IKAPPI) Kota Ambon, Azhar Ohorella, menyampaikan peringatan keras kepada Pemerintah Provinsi Maluku agar tidak menutup mata terhadap potensi kebocoran dan stagnasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Pasar Mardika Ambon. Ia menilai, jika dikelola secara profesional dan transparan, pasar tersebut mampu menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.
“Ini bukan sekadar persoalan pasar, ini menyangkut masa depan ekonomi Maluku. Potensi PAD miliaran rupiah seperti terkunci dan tidak bergerak. Harus ada langkah tegas,” ujar Azhar dalam keterangannya.
“Beta sangat yakin Gubernur Maluku Bapak Hendrik Lewerissa tidak tahu terkait semua persoalan yang saat ini sedang terjadi di pasar Mardika Ambon, pasti laporan ke beliau yang sangat bagus, sementara kondisi pasar dan pedagang sangat amburadul dan tidak tertata dengan baik,” Tegasnya.
Lihat saja pedagang hanya beraktivitas di lantai 1, sementara lantai 2, lantai 3 dan lantai 4 para pedagang kosong, sampah bertaburan bahkan di tangga digedung tersebut, tak hanya itu eskalator juga tidak berfungsi.
Ohorella juga menyampaikan Kadis Disperindag Maluku, Jais Ely jangan hanya lihat yang ramai dan focus pada proyek, sementara lantai 2,3 dan lantai 4 tidak di maksimalkan, ini yang perlu di perhatikan secara serius.
Lanjutnya, Ketua IKAPPI Kota Ambon juga soroti persoalan lampu penerangan yang hingga kini tidak aktif, siapakah yang akan bertanggungjawab, bagaimana tidak terjadi pencurian,? Ucap Ketua
Menurutnya, berbagai indikasi di lapangan menunjukkan adanya ketidakteraturan dalam sistem pengelolaan retribusi, penataan pedagang, hingga lemahnya pengawasan. Hal ini berpotensi menimbulkan kebocoran pendapatan daerah yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk pembangunan.
Azhar secara tegas meminta Gubernur Maluku untuk turun tangan langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku.
Sorotan tajam kepada Kadis Disperindag Maluku, Jais Ely. Ia dinilai perlu dievaluasi secara serius atas kinerja dan tanggung jawab dalam pengelolaan Pasar Mardika.
“Jika tidak ada perubahan signifikan, maka evaluasi adalah langkah yang wajar. Ini demi kepentingan rakyat Maluku, bukan kepentingan kelompok tertentu,” tegas Ohorella
Mantan Raja Negeri Kailolo ini juga menambahkan, semangat “Maluku Pung Bae” harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada kepentingan masyarakat luas, termasuk dalam pengelolaan pusat-pusat ekonomi rakyat seperti Pasar Mardika.
Selain itu, IKAPPI Kota Ambon juga mendorong adanya audit independen terhadap sistem pengelolaan pasar guna memastikan transparansi dan akuntabilitas. Langkah ini dianggap penting untuk mengembalikan kepercayaan publik sekaligus mengoptimalkan potensi PAD yang selama ini dinilai belum tergarap maksimal.
Di sisi lain, para pedagang berharap adanya pembenahan menyeluruh, mulai dari fasilitas, penataan lokasi, hingga kepastian aturan yang adil. Mereka menginginkan Pasar Mardika tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi Maluku yang tertib dan modern.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi Maluku untuk segera bertindak cepat dan tepat. Tanpa langkah konkret, potensi besar yang dimiliki Pasar Mardika dikhawatirkan akan terus terabaikan, sementara kebutuhan pembangunan daerah semakin mendesak.
Dengan tekanan publik yang semakin kuat, kini semua mata tertuju pada langkah Gubernur Maluku: apakah akan mengambil tindakan tegas demi menyelamatkan PAD dan mewujudkan visi besar Maluku Pung Bae, atau membiarkan persoalan ini terus berlarut tanpa penyelesaian, Tutupnya (LM-10)











Discussion about this post