Lensa Maluku, – Kritik adalah denyut nadi demokrasi. Ia menandai adanya ruang kebebasan, sekaligus menjadi cermin bagi kekuasaan untuk bercermin. Namun, kritik juga bisa kehilangan makna ketika berubah menjadi kegaduhan yang miskin substansi.
Di Maluku, gelombang kritik terhadap Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, belakangan ini menempatkan publik pada satu pertanyaan penting apakah badai kritik tersebut benar-benar menyasar substansi kebijakan, atau sekadar menjadi ekspresi frustrasi politik yang belum menemukan arah?
Pemerintah Provinsi Maluku memang tidak berada dalam ruang hampa. Setiap kebijakan publik selalu mengundang pro dan kontra. Kritik terhadap ritme pembangunan, efektivitas birokrasi, hingga prioritas anggaran patut dicatat sebagai alarm sosial. Akan tetapi, alarm hanya berguna bila diikuti analisis yang jujur dan solusi yang rasional.
Di sinilah publik perlu bersikap adil mengkritik tanpa menutup mata terhadap realitas objektif yang dihadapi Maluku sebagai daerah kepulauan dengan keterbatasan struktural yang nyata.
Fokus Pembangunan di Tengah Tekanan
Satu hal yang relatif konsisten dari kepemimpinan Gubernur Maluku adalah penegasan arah pembangunan lintas sektor tetap menjadi prioritas. Di tengah tekanan opini dan polarisasi wacana, pemerintah memilih menjaga fokus pada agenda pembangunan, sebuah pilihan yang patut diuji bukan lewat retorika, melainkan lewat indikator dan capaian.
Namun, fokus saja tidak cukup. Publik berhak menuntut kejelasan skala prioritas. Pembangunan di seluruh sektor berisiko terdengar normatif jika tidak disertai pemetaan yang transparan tentang mana yang harus didahulukan dan mengapa. Di titik inilah kritik konstruktif seharusnya diarahkan bukan mempertanyakan niat, melainkan menguji konsistensi dan efektivitas kebijakan.
Ekonomi Rakyat: Titik Kritis yang Tak Bisa Ditawar Narasi “Maluku Pung Bae”
Pada akhirnya akan diukur dari satu pertanyaan sederhana apakah kehidupan masyarakat bawah benar-benar membaik? Sektor perikanan, pertanian, dan UMKM bukan sekadar program unggulan, melainkan tulang punggung ekonomi Maluku. Setiap kebijakan yang tidak menyentuh sektor ini secara langsung akan sulit dipertahankan secara moral maupun politik.
Pemerintah telah mengambil sejumlah langkah ke arah tersebut, tetapi tantangan implementasi masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di sinilah kritik harus bersifat presisi menagih hasil, bukan sekadar memperbesar suara. Pemerintah pun dituntut lebih terbuka dalam menyampaikan data capaian agar publik tidak terjebak pada spekulasi.
Stabilitas Bukan Alasan Membungkam Kritik
Sering kali, stabilitas dijadikan argumen untuk meredam kritik. Padahal, stabilitas sejati justru lahir dari keterbukaan dan kepercayaan publik. Gubernur Maluku perlu memastikan bahwa ruang kritik tetap terbuka, sekaligus membedakan antara kritik yang membangun dan manuver yang cenderung destruktif.
Di sisi lain, para pengkritik pun memikul tanggung jawab etis untuk tidak memanipulasi sentimen publik. Kritik yang tajam tidak harus provokatif, dan moderasi tidak berarti kompromi terhadap kebenaran.
Menjaga Arah, Menguatkan Akuntabilitas
Badai kritik yang datang bertubi-tubi seharusnya menjadi momentum konsolidasi, bukan pembelokan arah. Fokus pembangunan di seluruh sektor hanya akan bermakna bila disertai akuntabilitas yang kuat, pengawasan yang ketat, dan evaluasi yang jujur. Di titik ini, pemerintah dan publik sesungguhnya berada pada posisi yang sama: sama-sama berkepentingan atas masa depan Maluku.
“Maluku Pung Bae”
Tidak membutuhkan pembelaan berlebihan, tetapi membutuhkan kerja yang terukur. Kritik yang tajam namun moderat akan menemukan relevansinya ketika diarahkan untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan bukan sekadar cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berkeadilan.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan seberapa keras kritik disuarakan, melainkan seberapa konsisten kebijakan dijalankan dan seberapa besar manfaatnya bagi rakyat Maluku.(LM-10)













Discussion about this post