Lensa Maluku – Kepemimpinan publik pada hakikatnya adalah soal kepercayaan. Ia tidak hanya diukur dari capaian program dan angka-angka statistik, melainkan dari kemampuan seorang pemimpin membaca denyut sosial, merawat dialog, dan menyiapkan masa depan secara berkelanjutan.
Dalam konteks itu, kepemimpinan Wali Kota Ambon, Boedewin Wattimena, menarik untuk dicermati, terutama dalam upayanya membangun sinergi yang konstruktif bersama kalangan pemuda.
Pemuda menempati posisi strategis dalam kehidupan kota. Mereka adalah pewaris masa depan sekaligus aktor penting dalam menjaga kualitas demokrasi lokal. Di banyak daerah, pemuda kerap ditempatkan sebatas objek kegiatan atau pelengkap narasi pembangunan. Namun, pendekatan semacam ini justru berisiko menjauhkan energi kreatif generasi muda dari proses pengambilan keputusan. Kesadaran akan hal tersebut tampak dalam cara Pemerintah Kota Ambon membuka ruang partisipasi dan dialog yang lebih setara dengan pemuda.
Sinergi yang dibangun tidak berhenti pada simbol atau seremoni. Kepemimpinan yang bijak justru terlihat dari kesediaan mendengar, merespons kritik, dan mengolah perbedaan pandangan menjadi kekuatan bersama. Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Ambon menunjukkan sikap terbuka terhadap aspirasi pemuda lintas latar belakang, sebuah praktik yang penting bagi kota dengan sejarah sosial yang kompleks seperti Ambon.
Kebijaksanaan dalam kepemimpinan sering kali diuji bukan pada saat situasi kondusif, melainkan ketika muncul dinamika sosial yang menuntut ketegasan sekaligus kehati-hatian. Di titik inilah sinergi dengan pemuda menjadi relevan. Pemuda tidak hanya membawa semangat perubahan, tetapi juga kepekaan sosial dan keberanian untuk menawarkan alternatif solusi. Ketika ruang ini dibuka secara sehat, potensi konflik dapat dikelola menjadi energi kolaborasi.
Dalam perspektif yang lebih luas, pendekatan inklusif terhadap pemuda mencerminkan visi jangka panjang. Pembangunan kota tidak semata soal infrastruktur fisik, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, karakter, dan rasa memiliki. Kota yang maju adalah kota yang memberi ruang bagi generasi mudanya untuk terlibat, berproses, dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.
Penghormatan publik terhadap seorang kepala daerah tidak lahir dari pujian tanpa kritik. Ia tumbuh dari konsistensi sikap, keberanian memilih jalan dialog, dan kesediaan menempatkan kepentingan jangka panjang di atas kepentingan sesaat. Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Wali Kota Ambon dinilai layak mendapat penghormatan publik karena mampu memposisikan pemuda sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Tentu, sinergi ini harus terus diuji dan dirawat. Tantangan ke depan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya, menuntut kepemimpinan yang adaptif dan partisipatif. Namun fondasi yang telah dibangun melalui pendekatan bijak dan dialogis bersama pemuda merupakan modal sosial yang penting bagi Ambon.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang layak dihormati adalah kepemimpinan yang mampu mempersatukan, mendengarkan, dan menumbuhkan harapan. Dalam ikhtiar menata masa depan kota, sinergi antara pemerintah dan pemuda bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Dan di titik inilah, kepemimpinan Wali Kota Ambon, Boedewin Wattimena, menemukan relevansinya dalam percakapan publik yang lebih luas. (LM-10).









Discussion about this post