Lensa Maluku,– Jumat berkah (16/1) pekan ini, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai penuh warna dengan nuansa spiritual yang khusyuk, dimana Warga Binaan Kristiani mengikuti ibadah secara virtual diikuti dengan Sholat Jumat memperingati Isra Mi’raj 1437 H bagi Warga Binaan Muslim.
Gelaran pembinaan kerohanian intensif itu juga menegaskan komitmen pembinaan kerohanian yang holistik di Lapas Wahai yang merangkul semua agama dalam memperkuat karakter spiritual Warga Binaan.
Dipimpin oleh Ps. Daniel Alexander dari Yayasan Cahaya Kasih, ibadah virtual ini diikuti khusyuk oleh Warga Binaan Kristen di gereja Ebenhaezer Lapas. Tujuannya adalah untuk terus memupuk dan memperkuat iman serta memberikan semangat baru bagi Warga Binaan memasuki langkah baru di tahun baru. “Ibadah online ini menjadi penyemangat kami akan iman dan pengharapan dalam menjalani masa pembinaan dan menumbuhkan kesadaran spiritual kami”, kata RR, salah satu Warga Binaan beragama Kristen.
Secara terpisah, Warga Binaan Muslim juga melaksanakan Sholat Jumat di Masjid At-Taubah Lapas yang diisi dengan tausiyah tentang hikmah Isra Mi’raj 1447 H untuk mengajak Warga Binaan Muslim agar mengintrospeksi diri.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah wujud pemenuhan hak dasar dan fondasi penting pembentukan akhlak mulia. “Juga melalui momen peringatan Isra Mi’raj kali ini, kami berharap Warga Binaan Lapas Wahai dapat mengambil hikmah mendalam, memperkuat keimanan, serta menyiapkan diri untuk kembali ke masyarakat dengan bekal spiritual yang lebih baik, melalui cipta lingkungan pemasyarakatan yang religius dan positif,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata dari jaminan Lapas terhadap hak-hak Warga Binaan dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. “Kami berkomitmen untuk memberikan pembinaan kepribadian yang seimbang dan holistik, baik jasmani maupun rohani. Momen peringatan Isra Mi’raj dan ibadah Jumat virtual ini menjadi pengingat bahwa aspek spiritual memegang peran penting dalam proses pemulihan dan pembentukan karakter mereka agar siap kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ditempat terpisah, dukungan penuh juga datang dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Kakanwil mengapresiasi konsistensi Lapas Wahai dalam menyelenggarakan pembinaan keagamaan secara rutin. “Iman yang kuat menjadi fondasi penting bagi Warga Binaan untuk bertaubat dan memulai hidup baru yang lebih baik,” kata Kakanwil, seraya menekankan bahwa kegiatan pembinaan kerohanian adalah pilar kunci keberhasilan dalam proses reintegrasi sosial.
Melalui sinergi antara Lapas dan lembaga keagamaan dalam berbagai program pembinaan kerohanian itu, diharapkan Warga Binaan Lapas Wahai dapat memaknai arti pembinaan, menjadikannya cahaya dalam kegelapan, dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan religius.(LM-05)












Discussion about this post