Lensa Maluku, – Sejak awal sejarahnya, Maluku tidak pernah berada di pinggiran peradaban. Laut menjadikannya pusat perjumpaan, jalur niaga, dan ruang hidup yang membentuk identitas masyarakat kepulauan.
Letak geografis yang strategis di jantung Indonesia Timur menempatkan Maluku sebagai beranda maritim, sekaligus simpul penting jalur laut nasional dan internasional. Namun, posisi strategis ini akan kehilangan makna jika tidak ditopang oleh sinergitas kebijakan yang kuat dan berkelanjutan.
Sebagai provinsi dengan karakter kepulauan, Maluku menghadapi tantangan struktural yang berbeda dengan wilayah daratan. Jarak antarpulau, keterbatasan infrastruktur transportasi laut, serta biaya logistik yang tinggi menjadi persoalan klasik yang belum sepenuhnya terurai.
Ironisnya, kebijakan pembangunan nasional masih sering bertumpu pada pendekatan darat, seolah-olah laut hanyalah pemisah, bukan penghubung. Di titik inilah urgensi sinergitas menemukan relevansinya.
Maluku sejatinya adalah laboratorium hidup pembangunan kepulauan. Hampir seluruh persoalan dan potensi kepulauan Indonesia dapat ditemukan di sini, mulai dari konektivitas antarpulau, pengelolaan sumber daya kelautan, ekonomi pesisir, hingga ketahanan sosial masyarakat adat.
Jika Maluku berhasil dibangun dengan pendekatan kepulauan yang tepat, maka ia dapat menjadi model nasional bagi pembangunan wilayah serupa di seluruh Nusantara.
Sebagai beranda maritim Indonesia Timur, Maluku memiliki posisi strategis dalam mendukung konektivitas laut nasional. Jalur pelayaran, pelabuhan pengumpul, dan sentra logistik seharusnya dikembangkan dengan visi kepulauan yang terpadu.
Sinergi antara sektor perhubungan, kelautan, perikanan, dan perdagangan menjadi keniscayaan. Tanpa itu, potensi maritim hanya akan menjadi jargon yang miskin dampak.
Lebih dari sekadar infrastruktur fisik, sinergitas juga harus menyentuh aspek sosial dan ekonomi. Nelayan, petani pulau, pelaku UMKM pesisir, dan masyarakat adat adalah aktor utama pembangunan kepulauan. Mereka tidak boleh terus berada di posisi paling rentan dalam rantai kebijakan.
Keberpihakan nyata, afirmasi fiskal, dan perlindungan terhadap ruang hidup pesisir adalah bentuk konkret sinergitas yang berkeadilan.
Pemerintah pusat memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memperlakukan Maluku secara adil. Skema pendanaan, regulasi kelautan, serta kebijakan afirmatif bagi provinsi kepulauan harus dirancang dengan perspektif geografis dan sosiologis yang utuh.
Keadilan tidak selalu berarti kesamaan, melainkan perlakuan yang sesuai dengan karakter wilayah.
Di sisi lain, kepemimpinan daerah dituntut mampu merajut kolaborasi dan menekan ego sektoral. Sinergitas tidak lahir dari retorika, melainkan dari keberanian menyatukan visi, memperkuat koordinasi, dan memastikan setiap program saling menguatkan.
Dalam konteks ini untuk “Maluku Pung Bae” bukan sekadar slogan kultural, melainkan kompas moral pembangunan.
Narasi Maluku juga perlu diubah. Ia bukan daerah pinggiran, bukan pula sekadar wilayah rawan konflik. Maluku adalah simpul strategis maritim, beranda timur Indonesia, dan masa depan ekonomi kelautan nasional.
Narasi ini penting untuk membangun kepercayaan publik, memperkuat posisi tawar daerah, serta menarik investasi yang berorientasi keberlanjutan.
Pada akhirnya, menjadikan Maluku sebagai beranda maritim Indonesia Timur dan laboratorium hidup pembangunan kepulauan hanya dapat terwujud melalui sinergitas yang konsisten.
Sinergitas antara kebijakan dan realitas, antara pusat dan daerah, serta antara negara dan masyarakat. Tanpa itu, potensi besar Maluku akan terus terpendam di balik gelombang.
Jika sinergitas benar-benar diwujudkan, maka Maluku bukan hanya menjadi etalase maritim Indonesia Timur, tetapi juga bukti bahwa pembangunan kepulauan yang adil dan berkelanjutan bukanlah utopia. Ia nyata, dan Maluku memiliki semua prasyarat untuk menjadi contohnya.
Langkah Gubernur dan Arah Kepemimpinan
Dalam konteks tersebut, Gubernur Maluku mengambil posisi strategis dengan mendorong agenda provinsi kepulauan melalui jalur konstitusional dan kebijakan. Sikap ini mencerminkan kepemimpinan yang memahami akar persoalan daerah, bukan sekadar mengelola rutinitas birokrasi.
Langkah Gubernur, Hendrik Lewerissa ini penting karena menyentuh fondasi pembangunan jangka panjang. Kepemimpinan daerah sejatinya tidak diukur dari seberapa cepat merespons polemik, melainkan dari keberanian memperjuangkan agenda strategis meski menghadapi tekanan, kritik, dan dinamika politik.
Di titik ini, konsistensi Gubernur menjadi modal penting yang harus diperkuat oleh dukungan publik.
Mengapa Agenda Ini Wajib Dikawal
Mendukung langkah Gubernur bukan berarti menutup ruang kritik. Justru sebaliknya, agenda provinsi kepulauan harus dikawal agar tidak tereduksi menjadi slogan atau dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek.
Pengawalan publik diperlukan agar kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada rakyat kepulauan, bukan berhenti pada dokumen perencanaan.
Pengawalan juga penting untuk memastikan bahwa perjuangan provinsi kepulauan berujung pada kebijakan konkret afirmasi fiskal, formula anggaran yang adil, pembangunan konektivitas laut, penguatan ekonomi maritim, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia kepulauan. Tanpa pengawalan yang konsisten, agenda strategis ini berisiko kehilangan arah.
Peran Masyarakat dan Pemuda
Masyarakat Maluku memiliki peran sentral dalam mengawal agenda ini. Dukungan publik yang luas dari tokoh adat, tokoh agama, akademisi, pemuda, hingga masyarakat akar rumput menjadi modal sosial yang sangat berharga.
Dukungan ini lahir dari pengalaman nyata menghadapi keterbatasan akibat kebijakan yang tidak berpihak pada wilayah kepulauan.
Pemuda Maluku, khususnya, harus mengambil peran lebih dari sekadar pendukung simbolik. Mereka adalah generasi yang akan merasakan langsung dampak dari kebijakan hari ini.
Dengan nalar kritis dan energi perubahan, pemuda dapat memastikan bahwa agenda provinsi kepulauan diterjemahkan ke dalam program nyata, bukan jargon politik.
Kepemimpinan Gubernur dan Keberanian Strategis
Dalam situasi fiskal yang terbatas dan tantangan geografis yang berat, tidak mudah bagi seorang kepala daerah untuk fokus pada agenda jangka panjang. Namun Gubernur Maluku menunjukkan keberanian politik dengan menempatkan konektivitas sebagai prioritas strategis. Ini adalah pilihan kepemimpinan yang patut diapresiasi.
Kepemimpinan semacam ini tidak selalu populer dalam jangka pendek. Hasilnya tidak selalu instan. Tetapi justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji, berani membangun fondasi, bukan sekadar mengejar pencitraan. Dukungan terhadap langkah Gubernur menjadi penting agar agenda konektivitas tidak terhenti oleh dinamika politik sesaat.
Menjahit Pulau, Menguatkan Ekonomi
Konektivitas yang kuat akan berdampak langsung pada penguatan ekonomi kepulauan. Nelayan akan lebih mudah memasarkan hasil tangkapan, petani di pulau-pulau kecil memiliki akses distribusi yang lebih luas, dan pelaku UMKM dapat menjangkau pasar antardaerah. Ketika pulau-pulau terhubung, rantai ekonomi lokal akan bergerak lebih dinamis.
Lebih dari itu, konektivitas juga membuka ruang bagi pengembangan sektor unggulan Maluku perikanan, kelautan, pariwisata bahari, dan ekonomi kreatif berbasis budaya kepulauan. Semua potensi ini hanya dapat berkembang jika akses antarpulau tidak lagi menjadi hambatan utama.
Menjaga Persatuan, Menghindari Polarisasi
Agenda provinsi kepulauan tidak boleh diseret ke dalam polarisasi politik sempit. Maluku memiliki sejarah panjang yang mengajarkan bahwa perpecahan hanya melahirkan kemunduran. Karena itu, dukungan terhadap langkah Gubernur harus diletakkan dalam bingkai kepentingan bersama, bukan loyalitas politik sesaat.
Perbedaan pandangan harus dirawat sebagai bagian dari demokrasi, tetapi tujuan besarnya tetap sama menghadirkan keadilan pembangunan bagi seluruh masyarakat Maluku. Inilah esensi dari pengawalan publik yang sehat kritis, rasional, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
Menjemput Masa Depan Kepulauan
Provinsi kepulauan bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju Maluku yang lebih berdaulat secara kebijakan, lebih adil secara pembangunan, dan lebih bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di atas laut dan di antara pulau-pulau, Maluku sedang menjemput masa depannya sendiri.
Ketika masyarakat bersatu mendukung langkah Gubernur, sesungguhnya Maluku sedang mengirim pesan penting bahwa daerah kepulauan ini tidak ingin terus dipandang dari kejauhan, tetapi ingin didengar, dipahami, dan diperlakukan secara adil. Inilah momentum sejarah yang harus dijaga bersama, demi Maluku pung bae, hari ini dan generasi yang akan datang.
Provinsi kepulauan bukan tujuan akhir, melainkan alat strategis untuk membangun Maluku yang lebih adil, berdaulat, dan bermartabat.
Langkah Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa dalam memperjuangkan agenda ini adalah langkah penting yang menyentuh akar persoalan daerah.
Karena itu, dukungan masyarakat tidak boleh berhenti pada retorika, tetapi harus diwujudkan dalam pengawalan yang konsisten dan konstruktif.(LM-10)














Discussion about this post