Lensa Maluku, — Awali tahun dengan semangat produktivitas dan kemandirian, Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali tunjukkan hasil positif melalui panen sayuran kangkung segar seberat delapan kilogram, Senin (5/12). Panen ini dihasilkan dari kebun hidroponik vertikultur di area dalam tembok Lapas Wahai.
Salah satu staf pembinaan, Rahmatsyah Latief Ode, menjelaskan kebun hidroponik vertikultur menjadi sarana pembelajaran yang relevan dengan perkembangan pertanian modern. Melalui metode ini, lahan terbatas dioptimalkan secara efektif sekaligus memberikan pengetahuan dan keterampilan baru kepada Warga Binaan dalam budidaya tanaman yang ramah lingkungan dan bernilai guna.
“Melalui sistem hidroponik vertikultur, Warga Binaan tidak hanya belajar menanam dan memanen, tetapi juga memahami teknik pertanian yang efisien dan berkelanjutan. Ini menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat ketika mereka kembali ke masyarakat,” jelas Rahmat.
Meski dalam skala sederhana, panen kangkung hidroponik ini memiliki manfaat besar karena hasilnya dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhan pangan di dapur Lapas. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan kemandirian terus berjalan secara berkelanjutan dan produktif mengawali tahun 2026.
Kepala Lapas, Tersih Victor Noya, menyampaikan apresiasinya atas semangat dan konsistensi Warga Binaan dalam mengikuti pembinaan sampai sekarang. “Panen kangkung hidroponik ini menjadi simbol semangat baru di awal tahun. Meski hasilnya sedikit namun nilai pembinaan sangat besar. Yang terpenting adalah proses pembelajaran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab Warga Binaan,” ujar Tersih seraya berharap pembinaan berdampak nyata dalam membangun kemandirian Warga Binaan maupun mendukung ketahanan pangan.
Di tempat berbeda, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas langkah progres yang tak pernah berhenti dilakukan Lapas Wahai. “Panen hidroponik ini merupakan wujud nyata implementasi program pembinaan kemandirian yang terus kita dorong di seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan. Ini bukan soal besar kecilnya hasil, tetapi keberlanjutan, inovasi, dan semangat perubahan,” ungkapnya.
Ricky berharap semangat produktivitas yang Warga Binaan Lapas Wahai terus dijaga dan dikembangkan. “Dari kegiatan sederhana, namun terarah seperti itu, program pembinaan benar-benar menyentuh kebutuhan dan kehidupan Warga Binaan secara nyata baik untuk saat ini maupun bekal di masa depan,” tutupnya.(LM-05)















Discussion about this post