
Lensa Maluku, – Konflik yang terjadi di beberapa wilayah Maluku belakangan ini menjadi perhatian serius. Perselisihan yang melibatkan warga di Kecamatan Salahutu antara Tial dan Tulehu, serta di Seram Utara antara Sawai, Rumaholat, dan Masihulan, menunjukkan perlunya kesadaran baru dalam menyelesaikan perbedaan.
Yani M. Hasan Salampessy, pendiri Gerakan Sayang Maluku (GSM) sekaligus Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Provinsi Maluku, mengajak semua pihak untuk mengedepankan perdamaian dalam setiap penyelesaian konflik.
Menurut Yani, banyaknya pertikaian yang melibatkan banyak orang sebenarnya dapat dihindari jika masyarakat memahami, bahwa persoalan pribadi seharusnya diselesaikan dengan cara yang lebih bijak.
Konflik yang terjadi sering kali berasal dari permasalahan kecil, namun berkembang luas karena melibatkan emosi dan solidaritas kelompok yang kurang terarah. Untuk itu, edukasi tentang penyelesaian konflik yang damai menjadi hal yang sangat penting.
Masyarakat sebagai Kunci Perdamaian
Pencegahan konflik bukan hanya tugas kepolisian, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah negeri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga ketertiban dan kedamaian di lingkungan mereka.
Forum-forum dialog harus lebih diperkuat agar masyarakat memiliki wadah dalam menyampaikan aspirasi serta menemukan solusi yang mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat.
Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kebersamaan, penting bagi warga Maluku untuk lebih mengutamakan dialog dalam menyelesaikan perbedaan.
Kekerasan hanya akan menambah luka dan meninggalkan dampak jangka panjang bagi generasi berikutnya. Oleh karena itu, setiap individu harus merasa bertanggung jawab dalam menciptakan stabilitas sosial di daerahnya.
Menolak Kekerasan, Merawat Budaya Damai
Sejarah mencatat bahwa Maluku memiliki pengalaman panjang dalam konflik sosial, baik antarkampung, suku, maupun kelompok. Namun, budaya Maluku sejatinya bukan budaya kekerasan.
Ia katakan, leluhur kita di Maluku mewariskan nilai-nilai hidup bersama yang berlandaskan kasih sayang, gotong royong, dan rasa hormat terhadap sesama. Oleh sebab itu, kekerasan tidak seharusnya menjadi bagian dari identitas masyarakat Maluku.
“Apakah konflik ini mencerminkan budaya warisan leluhur kita?” tanya Yani. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk kembali kepada nilai-nilai luhur yang mengutamakan kebersamaan dan toleransi. Jika nilai-nilai ini terus dipelihara, maka konflik dapat dicegah, dan Maluku akan menjadi daerah yang damai serta harmonis.
Peran Pemerintah dalam Mewujudkan Solusi Damai
GSM mengapresiasi langkah cepat yang diambil oleh Gubernur Maluku, Kapolda, dan Pangdam dalam merespons konflik yang terjadi. Begitu pula dengan Bupati dan Wakil Bupati Maluku Tengah serta Forkopimda yang turun tangan untuk menengahi permasalahan di Seram Utara. Pemerintah harus terus hadir sebagai fasilitator yang mengedepankan keadilan dan perdamaian.
Namun, kehadiran pemerintah saja tidak cukup. Kesadaran masyarakat dalam menyelesaikan konflik secara damai tetap menjadi faktor utama. Pendekatan berbasis dialog dan mediasi harus diperkuat, agar setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa perlu melibatkan kekerasan.
Masa Depan Maluku yang Harmonis
Sebagai aktivis yang peduli terhadap perdamaian, Yani berharap konflik yang terjadi saat ini menjadi momentum pembelajaran bagi seluruh masyarakat.
Maluku harus lebih kuat dalam menghadapi tantangan sosial dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Setiap individu harus menjadi agen perdamaian, yang tidak hanya menolak kekerasan, tetapi juga aktif membangun harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan komitmen bersama, Maluku dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menciptakan solusi konflik yang berbasis pada nilai-nilai kebersamaan dan kasih sayang.
“Mari kita jadikan Maluku sebagai tanah yang damai, tempat di mana setiap perbedaan dapat diselesaikan dengan dialog dan rasa saling menghormati,” tutupnya.(LM-05)
Discussion about this post