Lensa Maluku – Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Benhur G. Wattubun, menyampaikan pesan politik yang tegas saat membuka secara resmi Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan Zona Puncak, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Kamis (1/10/2026).
Berlangsung bertepatan dengan momentum Hari Kesaktian Pancasila, Benhur menegaskan pentingnya konsistensi kader dalam menjalankan garis ideologi partai sekaligus memastikan PDI Perjuangan tetap menjalankan fungsi pengawasan dan penyeimbang terhadap jalannya pemerintahan.
Menurutnya, partai politik tidak boleh kehilangan orientasi perjuangannya. Kepentingan rakyat, terutama masyarakat kecil atau wong cilik, harus tetap menjadi salah satu pijakan utama dalam menjalankan fungsi politik.
Program Pemerintah Harus Benar-Benar Dirasakan Rakyat
Dalam orasi politiknya, Benhur menekankan pentingnya pendidikan politik dan penguatan ideologi kader sebagai benteng menghadapi pragmatisme politik.
Ia juga menyoroti implementasi sejumlah program nasional yang menurutnya harus diawasi agar manfaatnya benar-benar diterima masyarakat. Salah satunya menyangkut program makanan bergizi gratis.
“Artinya, kalau negara ini berpihak kepada rakyat dan tidak membuat rakyat kecewa, kita bersama-sama dengan pemerintahan. Tetapi kalau program makan gizi gratis itu yang makan hanya pengusaha-pengusaha dan rakyat tidak makan, harus berurusan dengan penipu, di situlah fungsi penyeimbang kita bergerak. Kita tidak boleh diam melihat ketidakadilan tersebut,”. tegas Benhur.
Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap proses demokrasi tidak berarti menghilangkan fungsi kontrol politik. Menurutnya, dukungan terhadap kebijakan pemerintah harus tetap disertai sikap kritis dan pengawasan ketika terdapat persoalan yang berpotensi merugikan kepentingan rakyat.
Pembangunan Maluku Jangan Berhenti di Atas Kertas
Benhur juga menyinggung tantangan geografis Maluku yang terdiri atas wilayah kepulauan dengan karakteristik dan tingkat aksesibilitas berbeda.
Ia mendorong agar perencanaan pembangunan memberikan perhatian terhadap wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dan berada di kawasan terluar, termasuk Pulau Kelang, Manipa, Buano, Lease, Wetar Raya hingga Masela.
“Keadilan sosial itu harus nyata. Saya sendiri yang akan turun langsung memantau pulau-pulau tersebut. Kita mau memastikan perencanaan pembangunan bukan sekadar administrasi di atas kertas, tapi menjawab jeritan hati rakyat,” ujarnya.
Pesan tersebut, menurut Benhur, berkaitan dengan kebutuhan menghadirkan kebijakan pembangunan yang memperhitungkan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah.
Target Politik: Lahirkan Pemimpin dari Rahim PDI Perjuangan
Dalam kesempatan tersebut, Benhur juga mengajak kader PDI Perjuangan di SBB membangun kekuatan organisasi untuk menghadapi agenda politik mendatang.
Ia menyinggung perjalanan politik PDI Perjuangan di Kabupaten SBB yang hingga kini belum pernah menempatkan kader partai sebagai kepala daerah.
“Kabupaten ini sejak lahir sampai sekarang kita sudah satu kali memimpin atau belum? Belum! Kita doakan dan perjuangkan bersama, akan lahir pemimpin dari Seram Bagian Barat yang dikandung dan lahir dari rahimnya PDI Perjuangan!” serunya.
Benhur menyebut sejumlah nama yang menurutnya dapat menjadi bagian dari proses kaderisasi dan perjuangan politik partai di SBB.
Namun, ia menekankan bahwa siapa pun yang nantinya tampil harus memiliki basis ideologi, kerja nyata, dan komitmen terhadap kepentingan masyarakat.
“Mau itu Pak Frans, Pak Hani, Pak Nyong, atau Pak Asep, yang penting mereka dibesarkan oleh ideologi partai, bukan pemimpin kosmetik yang bicaranya manis di depan panggung tetapi mandul kerja nyata di belakang,” tegasnya.
“Kuasailah Dirimu Sebelum Menguasai Orang Lain”
Pada bagian akhir sambutannya, Benhur mengingatkan seluruh kader mengenai pentingnya disiplin organisasi dan soliditas internal.
Ia meminta kader mengamankan doktrin Lima Mantap PDI Perjuangan, yakni Mantap Ideologi, Mantap Organisasi, Mantap Kader, Mantap Sumber Daya, dan Mantap Program.
Menurutnya, dinamika pergantian maupun penetapan kepengurusan di tingkat Anak Cabang harus disikapi dengan kedewasaan politik. Setelah keputusan organisasi ditetapkan, seluruh kader harus kembali bekerja dalam satu garis perjuangan.
“Kuasailah dirimu sebelum engkau menguasai orang lain. Begitu palu keputusan diketok, tidak boleh ada lagi faksi-faksi, bisik-bisik, atau perdebatan di belakang. Semua wajib tunduk, tegak lurus, dan amankan perintah partai.
Setialah kepada sumbermu, dan sumber kita adalah rakyat,” pungkas Benhur.
Palu sidang kemudian diketok sebanyak tiga kali sebagai tanda dibukanya Musancab PDI Perjuangan Zona Puncak SBB secara resmi.(LM-10).











Discussion about this post