Lensa Maluku – Suara generasi muda Maluku kembali menggema menyerukan pentingnya persaudaraan dan persatuan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Ketua DPW Gema Mathla’ul Anwar Maluku, Adit Sella, salah satu representasi anak muda Maluku, menegaskan komitmennya untuk mengajak generasi sebaya menggaungkan semangat persaudaraan dan secara tegas melawan narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat, khususnya antarumat beragama.
Dalam pernyataannya di Ambon, Adit menilai Maluku memiliki pengalaman sejarah kelam yang sangat berharga dalam merawat harmoni sosial. Konflik sosial 1999, kata dia, menjadi pelajaran mahal bahwa perpecahan hanya meninggalkan luka panjang dan trauma kolektif. Karena itu, generasi muda tidak boleh lengah terhadap berbagai isu provokatif yang beredar, terutama melalui media sosial.
“Anak muda Maluku harus menjadi garda terdepan menjaga persaudaraan. Jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang sengaja dimainkan untuk memecah belah. Kita sudah belajar dari sejarah,” tegas Adit.
“Bagi saya maluku adalah lumbung Perdamaian, marilah kita jaga harmonisasi persaudaraan ini dengan baik, nyaman itu kita yang Ciptakan, Kebersamaan adalah nadi persaudaraan, stop dengan narasi yang akan memecah kembali pela gandong di bumi raja-raja ini”. Ucap Sella
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi konflik fisik, melainkan perang opini dan informasi. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta framing yang menyesatkan dinilai berpotensi mengganggu stabilitas sosial jika tidak disikapi dengan kedewasaan. Oleh sebab itu, literasi digital dan kesadaran kritis generasi muda menjadi kunci.
Adit menekankan bahwa Maluku memiliki modal sosial yang kuat, mulai dari nilai pela gandong hingga tradisi hidup berdampingan antarumat beragama. Modal ini, lanjutnya, harus terus diperkuat melalui dialog, kolaborasi lintas komunitas, dan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang.
“Persaudaraan di Maluku bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam keseharian masyarakat. Tugas kita adalah menjaganya agar tetap kokoh di tengah perbedaan,” ujarnya lugas.
Ia juga mengajak tokoh agama, tokoh adat, serta pemerintah daerah untuk terus membuka ruang partisipasi bagi generasi muda. Anak muda dinilai bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang memiliki energi dan gagasan untuk memperkuat harmoni sosial.
Dalam konteks kebangsaan, Adit menilai Maluku dapat menjadi pusat kedamaian, bahkan contoh bagaimana daerah yang pernah mengalami konflik mampu bangkit dan meneguhkan diri sebagai simbol perdamaian. Transformasi tersebut, menurutnya, harus dijaga dengan komitmen kolektif dan konsisten.
“Dari Timur Indonesia, kami ingin menyampaikan pesan bahwa Maluku adalah rumah bersama. Tidak boleh ada ruang bagi narasi perpecahan. Yang harus kita gaungkan adalah persaudaraan,” tegasnya.
Seruan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah komunitas pemuda yang hadir. Mereka sepakat bahwa menjaga Maluku tetap aman dan damai merupakan tanggung jawab bersama, tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun pilihan politik.
Dengan semangat kebersamaan dan kesadaran sejarah, anak muda Maluku diharapkan terus menjadi motor penggerak persatuan. Dari Timur Indonesia, pesan persaudaraan itu kembali ditegaskan, harmoni harus dirawat, dan narasi perpecahan harus dilawan dengan sikap bijak serta komitmen pela gandong pada nilai kebangsaan. (LM-10)









Discussion about this post