Lensa Maluku, – Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Ambon, Eben Rifqi Taufan, mengakui kalau para WNA asal Cina yang dibawa PT Wansuhai Indo Mining (PT WIM) itu masuk ke tambang emas Gunung Botak (GB) hanya bermodal Visa Kunjungan.
Kasus enam WNA asal Cina yang dibawa PT WIM itu sempat viral di media sosial dan berbagai berita online, karena keenamnya masuk ke Kabupaten Buru dan bekerja sebagai tenaga teknis di koperasi pemegang Izin Tambang Rakyat di GB.
Sesuai data timpora, enam WNA asal Cina itu tidak terdaftar langsung sebagai karyawan PT WIM, melainkan berada dibawa payung PT Harmoni Alam Manise (PT HAM) , salah satu perusahaan cabang milik PT WIM.
Ke-enam WNA asal Cina itu antara lain :1). Manise Tan Weizhong — Teknisi Lapangan PT Harmoni Alam Manise, 2). Manise Li Jianfeng — Teknisi Lapangan PT Harmoni Alam Manisr, 3). Manise Wu Yuesheng — Field Manager PT Harmoni Alam Manise, 4). Manise Wu Jing — Marketing dan Commercial Manager PT Harmoni Alam Manise, 5). Manise Peng Ke — Staf Teknis PT Harmoni Alam Manise, 6). Manise Cai Min — Staf Teknis PT Harmoni Alam.
Ke-enam oknum ini yang diduga kuat menjadi inspirator dan pelaku lapangan dengan masuknya sejumlah alat berat di Tambang GB.
Dinas ESDM Propinsi Maluku sudah berapa kali menegur koperasi Pemegang IPR dengan beroperasinya alat berat di GB.
Namun beberapa koperasi yang berhasil dihubungi terpisah sepekan terakhir ini menjawab secara kompak kalau bukan mereka yang memobilisasi alat berat dan secara tersirat menujuk ke orang kuat PT WIM bernama Henela Ismail.
Menanggapi hal itu, Eben di sela-sela Rapat Kerja Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) Kabupaten Buru Tahun 2026, yang berlangsung di Hotel Grand Sarah, Namlea, Kamis siang (12/3/2026) menjelaskan, telah mendapat laporan tersebut.
“Terkait dengan tadi yang disampaikan, saya juga mendapat informasi itu.Tetapi petugas melaporkan kepada saya waktu itu, kedatangan orang asing ini dalam rangka penjajakan dan mereka. menggunakan visa kunjungan. Mereka sudah kembali ke Cina,”jelas Eben.
Lanjut Eben, tapi pada saat para WNA asal Cina ini beraktivitas sebagai tenaga kerja asing dan mengeksploitasi tambang di GB, maka orang – orang asing ini harus memiliki izin yang sesuai. “Yaitu izin tinggal terbatas dan rekomendasi dari Kementrian Tenaga Kerja, ” tegas Eben.
Eben menambahkan, siang tadi dilakukan rapat kerja timpora di Kabupaten Buru ditujukan agar pengawasan orang asing itu terpadu dan baik.
Jadi tidak imigrasi saja yang melakukan pengawasan ini tetapi juga dibantu oleh instansi terkait. Dengan harapn keberadaan dan kegiatan orang asing di Pulau Buru ini termonitor dengan baik.
Eben menilai kalau Kabupaten Buru kandungan tambang emasnya sangat luar biasa. Tapi kalau tidak dieksploitasi dan dikelola dengan baik akan merugikan kita sendiri.
“Kita berharap eksplorasi ini berjalan dengan baik dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat, ” harap Eben.
Sementara itu, sumber terpercaya menyebutkan hingga kini masih terlihat ada WNA asal Cina di GB sedang mengawasi beroperasinya dua eksavator dan dua doser di GB.
Satu nama yang paling santer disebut berada di balik pengerahan alat berat di GB itu adalah orang kuat PT WIM, Helena Ismail.
Tim ESDM Propinsi Maluku yang dikirim telah menyaksikan dan menegur langsung kegiatan empat alat berat di GB. Namun teguran itu tidak diindahkan dengan berdalih alat berat untuk melakukan pembersihan.
Humas PT WIM, Sofyan Muhammadiya yang berhasil dihubungi lewat HP dan disodori pertanyaan soal keterlibatan Helena Ismail yang membawa tenaga kerja asing dan mengerahkan alat berat ke GB, berdalih akan meminta petunjuk ke bosnya (Helena Ismail, red).
“Kasih waktu beta lima menit beta minta petunjuk sesuai yang terjadi, supaya beta seng salah-salah,” alasannya dari seberang telepon.
Terkait dengan WNA asal Cina, Sofyan mengaku dari enam orang itu sebagian sudah pulang dan ada yang masih bertahan.
Ditanya keberadaan tiga lagi yang masih bertahan apakah ada di GB, Sofyan buru-buru menjawab tidak ada di sana.
Diduga kuat Rapat Timpora dan rencana inspeksi mendadak ke GB sudah tercium pihak PT WIM, sehingga WNA yang mengawasi alat berat di GB telah ditarik mundur masuk ke Kota Namlea.
“Seng, seng di Gunung Botak lagi. Tapi di Namlea,”jelas Sofyan.
Saat diminta kepastiannya soal sebagian atau tiga WNA yang masih bertahan bekerja di GB dengan hanya bermodal Visa Kunjungan dan nama-namanya, Sofyan lagi-lagi mengaku harus berkomunikasi terlebih dahulu dengan bosnya dan nanti baru telepon balik.
Namun sampai berita ini dikirim, Humas PT WIM tak lagi merespon pertanyaan konfirmasi itu. (LM-04)











Discussion about this post