Lensa Maluku,- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai tunjukkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem di lahan pertanian Lapas. Di tengah peringatan dini akan angin badai di wilayah Maluku,
pihak Lapas bersama para Warga Binaan ambil langkah proaktif untuk mengamankan aset pertanian, khususnya ribuan tanaman jagung yang menjadi bagian dari program kemandirian pangan unggulan, Jumat (2/1).
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengungkapkan ini merupakan mitigasi yang wajib dilaksanakan karena di tengah musim penghujan yang sering disertai angin kencang, inisiatif perlindungan tanaman menjadi sangat krusial. “Kami tidak hanya fokus pada pembinaan, tetapi juga harus tanggap menghadapi berbagai kondisi, termasuk angin kencang yang bisa menyebabkan bencana dan gagal panen,” ujarnya.
Tersih menambahkan pertanian jagung ini adalah salah satu implementasi nyata dari 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam bidang kemandirian dan ketahanan pangan yang merupakan hasil kerja keras yang bernilai ekonomis. “Kami berupaya maksimal melindunginya, apalagi bulan ini rencananya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku ingin memusatkan panen raya di Wahai,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, petugas dan Warga Binaan bahu-membahu memasang penopang tambahan dan memperkuat tanggul di sekitar lahan jagung. Sebelumnya, program pertanian jagung di Lapas Wahai berhasil dengan panen raya sebelumnya Oktober tahun lalu yang menghasilkan hingga 1,2 ton dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Inisiatif ini tidak hanya mengasah keterampilan bertani Warga Binaan, tetapi juga memupuk rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban, Usman Bakri, kala melakukan pengawalan menjelaskan mitigasi ini menjadi bagian integral dari proses edukasi kemandirian. “Melalui kegiatan nyata di lapangan, kami mengajarkan Warga Binaan cara-cara praktis mitigasi risiko pertanian. Mereka belajar mengenali tanda-tanda cuaca dan teknik sederhana, namun efektif untuk melindungi tanaman dari kerusakan angin, seperti membuat penopang yang kuat,” jelasnya seraya berharap keterampilan bertani nanti bermanfaat saat Warga Binaan kembali ke masyarakat.
Lapas Wahai terus tunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang produktif dan kondusif di mana pembinaan tidak hanya berjalan di dalam sel, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan alam melalui mitigasi risiko demi mencapai keberhasilan program ketahanan pangan yang efektif dan berkelanjutan.
Upaya antisipatif ini diharapkan meminimalisir kerusakan dan memastikan hasil panen dapat diselamatkan. Lapas Wahai juga akan terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Maluku Tengah untuk memantau perkembangan cuaca lebih lanjut.(LM-05)














Discussion about this post