Lensa Maluku – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, dr. Sarlota Singerin, S.Pd.,M.Pd. menunjukkan komitmen kuat membenahi institusi yang dipimpinnya dengan pendekatan kerja nyata. Minim retorika di ruang publik, Singerin lebih memilih memperkuat sistem internal, menata ulang prioritas program, serta memastikan setiap kebijakan sejalan dengan misi besar pembangunan pendidikan di Maluku.
Di ruang kerjanya kepada media ini, Singerin menjelaskan bahwa sebagai kepala Dinas ini sebuah amanah dan tanggungjawab besar, dalam membenahi dan focus program pada dinas yang saya pimpin, sehingga bagi saya kemajuan sebuah lembaga bukan karena banyak retorika, atau lebih karena penampilan, tapi Aksi nyata dalam mendorong program dengan action”.
Bagi Singerin, pendidikan bukan sekadar urusan administratif, melainkan pilar utama pembangunan daerah. Kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh sistem pendidikan yang terkelola baik, merata, dan berorientasi pada mutu. Karena itu, pembenahan dinas menjadi langkah awal yang dianggap krusial.
Konsolidasi Internal dan Penegasan Arah Kebijakan
Sejak awal menjabat, Singerin melakukan konsolidasi menyeluruh bersama jajaran struktural dan fungsional. Evaluasi terhadap program yang berjalan dilakukan secara sistematis, termasuk penyesuaian terhadap visi dan misi pendidikan provinsi.
Penataan tata kelola menjadi prioritas utama. Ia menekankan pentingnya disiplin administrasi, transparansi anggaran, serta akuntabilitas kinerja. Setiap bidang diminta bekerja berbasis data dan memiliki indikator capaian yang jelas.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa kebijakan pendidikan tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dan saling mendukung. Dengan sistem yang tertata, pelayanan kepada sekolah, guru, dan peserta didik dapat lebih optimal.
Pendidikan sebagai Pilar Pembangunan
Singerin menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun daya saing daerah. Tanpa sistem pendidikan yang kuat, sulit bagi Maluku untuk mencetak generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Karena itu, misi pendidikan yang diusung diarahkan pada peningkatan mutu pembelajaran, pemerataan akses, serta penguatan karakter peserta didik. Upaya tersebut mencakup peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, optimalisasi peran pengawas sekolah, hingga penguatan literasi dan numerasi.
Selain itu, pengembangan pendidikan vokasi juga menjadi perhatian. Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja dan potensi daerah diharapkan mampu melahirkan lulusan yang siap pakai dan produktif.
Prioritas Wilayah 3T dan Pemerataan Akses
Sebagai daerah kepulauan, Maluku menghadapi tantangan geografis yang signifikan. Oleh sebab itu, perhatian terhadap wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi bagian dari strategi utama.
Distribusi tenaga pendidik, pemenuhan sarana dan prasarana, serta penguatan manajemen sekolah di wilayah terpencil menjadi fokus pembenahan. Singerin menekankan bahwa pemerataan bukan hanya soal jumlah sekolah, tetapi juga kualitas layanan yang diberikan.
Koordinasi dengan cabang dinas di kabupaten/kota diperkuat agar kebijakan provinsi selaras dengan kondisi di lapangan. Pendekatan berbasis kebutuhan riil menjadi prinsip dalam penyusunan program prioritas.
Bangun Budaya Kerja Profesional
Selain pembenahan program, Singerin juga menaruh perhatian pada budaya kerja aparatur. Ia menegaskan pentingnya integritas, kedisiplinan, serta orientasi pada hasil. Menurutnya, perubahan sistem tidak akan berjalan efektif tanpa didukung sumber daya manusia yang profesional.
Penegasan ini menjadi bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan. Dengan kerja kolektif dan komitmen bersama, Dinas Pendidikan diharapkan mampu bergerak lebih cepat dan adaptif.
Lebih Banyak Aksi, Bukan Sekadar Narasi
Gaya kepemimpinan Singerin yang tenang namun tegas mencerminkan orientasi pada substansi. Ia memilih memastikan langkah pembenahan berjalan sistematis sebelum dipublikasikan secara luas. Baginya, hasil konkret akan menjadi bukti komitmen terhadap misi pendidikan.
Pendekatan minim retorika ini menegaskan bahwa pembenahan dinas bukan sekadar wacana. Pendidikan sebagai pilar utama pembangunan daerah menjadi landasan dalam setiap kebijakan yang diambil.
Di tengah dinamika dan tantangan sektor pendidikan, langkah kerja nyata yang terukur menjadi harapan baru bagi peningkatan mutu pendidikan di Maluku. Publik kini menantikan implementasi berkelanjutan dari misi pendidikan yang telah ditegaskan-sebuah komitmen untuk membangun generasi yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. (LM-10)










Discussion about this post