Lensa Maluku, – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Ambon, dinamika internal partai kian menghangat. Sejumlah simpatisan dan kader akar rumput secara terbuka menyuarakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Ketua DPC PKB Kota Ambon, Bahadin Karepesina. Gelombang penolakan pun disebut-sebut terus membesar seiring semakin dekatnya agenda Muscab yang akan menjadi momentum evaluasi sekaligus penentuan arah baru kepemimpinan partai di tingkat kota. Rabu, 18/02/2026
Bahadin Karepesina sangat tidak layak dalam menahkodai DPC PKB Kota Ambon, dirinya di nilai sangat gagal, dilihat dari minimnya program partai yang tidak berjalan efektif sebagaimana harapan simul, konsolidasi partai macet, seakan musiman politik baru partai bergerak, Kami sangat merindukan sosok pemimpin untuk melakukan perubahan, sebagai simpatisan PKB kami sangat kecewa dengan pola dan gaya kepemimpinan Bahadin Karepesina. Ucap Anomali
Sejumlah sumber internal yang enggan disebutkan namanya menilai, selama masa kepemimpinan Bahadin Karepesina, konsolidasi organisasi tidak berjalan maksimal. Struktur partai di tingkat ranting hingga anak ranting disebut kurang aktif, sementara komunikasi politik dinilai tidak terbangun secara solid dan menyeluruh. Kondisi ini, menurut mereka, berdampak pada melemahnya mesin partai dalam merespons isu-isu strategis maupun agenda elektoral.
“Momentum Muscab ini harus menjadi titik balik. PKB Kota Ambon tidak boleh jalan di tempat. Kita butuh kepemimpinan yang mampu merangkul semua elemen, bukan yang justru menimbulkan jarak,” ujar salah satu simpatisan senior PKB di Kota Ambon.
Kritik yang mengemuka tidak hanya menyasar aspek konsolidasi internal, tetapi juga menyentuh soal capaian politik. Beberapa kader menilai, dalam beberapa momentum politik terakhir, peran dan pengaruh DPC PKB Kota Ambon belum menunjukkan progres signifikan. Mereka menginginkan figur ketua yang memiliki visi kuat, kapasitas manajerial, serta jejaring politik yang luas guna mengangkat kembali marwah partai di Kota Ambon.
Di sisi lain, ada pula pandangan yang menyebut bahwa dinamika ini merupakan bagian wajar dari proses demokrasi internal partai. Muscab sebagai forum tertinggi di tingkat cabang dinilai menjadi ruang konstitusional untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan sekaligus memilih pemimpin baru secara terbuka dan demokratis.
Sejumlah simpatisan bahkan secara tegas meminta Bahadin Karepesina untuk legowo dan tidak lagi mencalonkan diri sebagai ketua DPC dalam Muscab mendatang. Mereka beralasan, regenerasi kepemimpinan menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga soliditas dan memperluas basis dukungan partai di tengah kompetisi politik yang kian ketat.
“PKB adalah partai kader. Regenerasi itu keniscayaan. Kalau memang ada penilaian bahwa kepemimpinan saat ini kurang efektif, maka Muscab adalah forum yang tepat untuk melakukan perubahan,” ujar kader lainnya.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bahadin Karepesina terkait desakan tersebut. Belum diketahui pula apakah ia akan kembali mencalonkan diri atau memberikan ruang bagi figur lain untuk memimpin DPC PKB Kota Ambon ke depan.
Pengamat politik lokal di Kota Ambon menilai, dinamika internal yang terjadi di tubuh PKB merupakan cerminan meningkatnya kesadaran kader terhadap pentingnya tata kelola organisasi yang profesional dan akuntabel. Menurutnya, jika dikelola secara dewasa dan sesuai mekanisme partai, perbedaan pandangan justru dapat memperkuat fondasi organisasi.
Muscab DPC PKB Kota Ambon diperkirakan akan menjadi ajang pertarungan gagasan dan konsolidasi kekuatan antar-kelompok internal. Siapa pun yang terpilih nantinya, diharapkan mampu meredam polarisasi dan menyatukan seluruh elemen partai demi menghadapi tantangan politik ke depan.
Di tengah gelombang penolakan yang terus menguat, satu hal yang menjadi sorotan adalah bagaimana proses Muscab akan dijalankan: apakah benar-benar menjadi panggung demokrasi yang terbuka dan transparan, atau justru memperdalam friksi internal. Publik dan kader PKB Kota Ambon kini menanti, apakah momentum ini akan melahirkan pembaruan kepemimpinan atau mempertahankan status quo.(LM-03)










Discussion about this post