JAKARTA – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya drama keluarga yang sarat nilai kehidupan melalui film Dua Nafas. Film garapan sutradara Hasto Broto ini mengangkat kisah tentang cinta, pengorbanan, dan bakti kepada orang tua yang dikemas dalam alur cerita penuh emosi.
Dua Nafas menceritakan perjalanan hidup Anto, seorang anak yang sejak usia delapan tahun harus tinggal bersama neneknya, Mariyam, di sebuah desa terpencil. Keputusan tersebut diambil sang ibu, Wati, karena kondisi tertentu yang mengharuskannya menitipkan putranya kepada orang tua di kampung halaman.
Terbiasa hidup di Jakarta, Anto menghadapi tantangan besar untuk beradaptasi dengan kehidupan desa yang sederhana. Namun, kasih sayang dan ketulusan Mariyam membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh semangat dalam meraih cita-cita.
Enam belas tahun kemudian, perjuangan Anto membuahkan hasil. Ia berhasil menjadi seorang dokter dan kembali ke desa untuk menemui nenek yang telah membesarkannya. Namun, kepulangannya berubah menjadi momen penuh haru ketika ia mendapati Mariyam telah meninggal dunia dalam posisi duduk sambil menantikan kedatangannya.
Kisah tersebut menjadi inti dari pesan yang ingin disampaikan film *Dua Nafas*, yakni pentingnya menghargai pengorbanan keluarga serta memanfaatkan waktu bersama orang-orang tercinta sebelum terlambat.
Film ini ditulis oleh Jo Hyeon Suk dan Exan Zen, serta dibintangi oleh Syakir Daulay, Aty Cancer, dan Auzan Noh Karepesina. Dengan kekuatan cerita yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia, Film Dua Nafas diharapkan mampu menyentuh hati penonton dari berbagai kalangan.
Selain menghadirkan drama keluarga yang menyentuh, film ini juga mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan nilai-nilai kasih sayang, pengabdian, dan penghormatan kepada orang tua yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan berkeluarga.(LM-03)









Discussion about this post