Lensa Maluku – Isu “tugas tentara itu baku tembak, bukan urus sungai” yang diarahkan ke pembangunan areal parkir dan garasi UMKM di atas Sungai Waitomu Mardika oleh Kodam XV Pattimura dibantah keras oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa, 27/10/2026.
Sekretaris Lembaga Pemerhati Masyarakat Perkotaan (LPMP), Imran alias Rony Marasabesy menilai opini tersebut adalah cara pandang lama, sempit, dan tidak paham UU TNI serta kondisi nyata Kota Ambon.
Ia juga menjelaskan secara Aauran, memang tugas TNI bantu Tata Kota dan Tangani Bencana. Dalam UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI Pasal 7, tugas TNI bukan hanya Operasi Militer Perang (OMP) atau baku tembak, tapi juga Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Di dalam OMSP itu jelas tertulis :
– Membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan
– Membantu pemerintah daerah
– Membantu tugas kepolisian dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat
Penataan Sungai Waitomu yang selama ini menjadi tempat penumpukan sampah, aliran tersumbat, dan kawasan kumuh Mardika masuk kategori karya bakti TNI membantu Pemda.
Kepala Penerangan Kodam XV/Pattimura Letkol Inf Adi Swastika sudah menegaskan, pembangunan ini adalah bagian dari penataan kawasan untuk revitalisasi dan peningkatan ekonomi warga, khususnya UMKM, bukan untuk kepentingan Markas semata.
Selain itu, Sejarahnya TNI Selalu Urus Sungai, Bukanlah hal baru. Kalau tentara hanya boleh baku tembak, maka beberapa program yang melibatkan TNI dianggap pelanggaran, diantara Program tersebut yakni :
1. Citarum Harum (Jawa Barat), Sejak 2018 Presiden sendiri yang menunjuk Pangdam III/Siliwangi untuk memimpin pembersihan Sungai Citarum yang disebut sungai terkotor di dunia. Hasilnya, 200 ton sampah per hari diangkat oleh prajurit.
2. Kali Cakung, Kali Pesanggrahan (Jakarta), Dikeruk oleh Yonzipur TNI AD saat banjir Jakarta.
3. Sungai di Surabaya, Banjarmasin, Pontianak. Semua normalisasi sungai besar melibatkan Zeni TNI.
Jadi, Kodam XV/Pattimura urus Waitomu itu melanjutkan tradisi yang sudah ada, bukan cari kerjaan baru.
Fakta di lapangan yang didapat Lembaga Pemerhati Masyarakat Perkotaan:
– Sungai Waitomu statusnya tercemar berat. Di muaranya, sampah plastik, kayu, limbah rumah tangga menumpuk rapat menutup air. Petugas DLH hanya mampu angkut dengan jaring.
– Pedagang buah di Pantai Losari kepanasan kehujanan, parkir di Mardika semrawut, kawasan jadi kumuh.
Pertanyaan balik dari tokoh Pemerhati Masyarakat Perkotaan, Imran, “Selama ini sungai itu dibiarkan. BWS punya kewenangan, tapi pengerukan dan jaring sampah saja tidak cukup tanpa penataan kawasan. Kalau ada institusi yang punya alat, personel, dan mau pakai dana sendiri (bukan APBD/APBN) untuk menata, kenapa harus dihujat dengan narasi ‘urus saja perang’?”
Ia optimistis setelah selesai, kawasan ini akan menjadi ikon baru Kota Ambon. Baku Tembak Itu 1% Tugas, 99% Tugas Mulia TNI Adalah Bersama Rakyat.
Doktrin TNI adalah “Bersama Rakyat TNI Kuat”. Di Ambon, ancaman hari ini bukan perang antar negara, tapi banjir saat hujan dan pasang bersamaan, sampah yang menyumbat muara, dan UMKM yang tidak dapat tempat layak.
Pembangunan areal parkir-garasi UMKM di Sungai Waitomu adalah bukti nyata TNI bersama rakyat. Tuduhan pembangunan liar sudah dijawab Kapendam: pembangunan telah dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Ambon dan kewenangan izin ada di Kementerian PU melalui BWS Maluku.
lebih lanjut, Rony berpendapat bahwa “Secara substansi OMSP sudah tepat, tapi kami mendorong Pangdam segera lengkapi perizinan SIP SDA di BWS Maluku dan desain teknis yang menjamin aliran banjir selain itu akses alat berat pengeruk sampah tetap terjaga, agar tidak melanggar UU SDA dan UU Lingkungan Hidup.”
” jadi Jangan alergi kalau tentara bawa cangkul. Justru kalau tentara hanya mau pegang senjata, itu yang harus kita takutkan, tutup Sekretaris LPMP tersebut.(LM-10).







Discussion about this post