Lensa Maluku – Pelaksanaan Muktamar XIV Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang berlangsung di Cristian Center, Talake Pantai, Kota Ambon, menjadi momentum penting dalam memperkuat arah gerakan organisasi sekaligus memperteguh komitmen kebangsaan di tengah dinamika sosial, politik, dan pembangunan nasional.
Kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Kepemimpinan Mahasiswa Muslim untuk Indonesia Maritim yang Berkeadilan dan Berdaulat” tersebut dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Kehadiran para peserta dari seluruh penjuru Nusantara menjadikan forum ini sebagai representasi keberagaman anak bangsa yang berhimpun dalam semangat persatuan, dialog, dan konsolidasi gagasan untuk masa depan Indonesia.
Muktamar yang merupakan forum tertinggi organisasi KAMMI itu turut mendapat perhatian berbagai unsur pemerintah, organisasi kepemudaan, dan elemen masyarakat.
Dalam pembukaan kegiatan hadir perwakilan Gubernur Maluku, perwakilan Wali Kota Ambon, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, serta Dinas Pariwisata Provinsi Maluku yang diwakili oleh Mudian Wael.
Selain itu, sejumlah organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan juga turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan KNPI, GMKI, dan IMM. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan muktamar sekaligus menjadi simbol pentingnya kolaborasi lintas organisasi dalam membangun daerah dan bangsa.
Dalam forum tersebut, mengemuka gagasan besar mengenai tiga fase perjalanan KAMMI yang menjadi kerangka pembangunan organisasi ke depan, yakni fase konsolidasi kebangsaan, fase konsolidasi demokrasi, dan fase konsolidasi sumber daya strategis.
Ketiga fase tersebut dipandang sebagai tahapan yang saling berkaitan dalam membentuk kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, integritas moral, serta kemampuan menjawab tantangan zaman.
Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI periode 2026–2028, Amri Akbar, di hadapan para tamu undangan dan peserta Muktamar XIV KAMMI menegaskan bahwa fase pertama yang harus diperkuat adalah konsolidasi kebangsaan.
Menurutnya, konsolidasi kebangsaan merupakan fondasi utama bagi perjalanan organisasi dalam menjaga persatuan nasional dan memperkuat komitmen terhadap cita-cita Indonesia.
Bagi KAMMI, konsolidasi kebangsaan merupakan proses membangun kesadaran kolektif bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh anak bangsa.
Dalam konteks tersebut, kader-kader KAMMI dituntut menjadi pelopor persatuan dan perekat sosial di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia.
Pandangan tersebut dinilai relevan dengan kondisi bangsa yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari polarisasi sosial, penyebaran disinformasi, hingga menguatnya sentimen identitas yang berpotensi memecah belah persatuan.
Oleh sebab itu, penguatan wawasan kebangsaan dianggap menjadi kebutuhan mendesak yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda.
Selain memperkuat semangat kebangsaan, KAMMI juga menekankan pentingnya kehadiran kader di tengah masyarakat. Organisasi mahasiswa tidak boleh hanya berkutat pada aktivitas internal dan diskusi akademik, tetapi harus mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan rakyat.
Dengan demikian, kader KAMMI diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Setelah fondasi kebangsaan diperkuat, perjalanan organisasi memasuki fase kedua, yakni konsolidasi demokrasi. Fase ini menitikberatkan pada penguatan budaya demokrasi yang sehat, partisipatif, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
KAMMI memandang bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme pergantian kekuasaan, tetapi juga ruang partisipasi publik yang harus dijaga kualitasnya.
Berbagai tantangan demokrasi yang masih dihadapi bangsa, seperti politik transaksional, rendahnya literasi politik, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap sejumlah institusi, menjadi perhatian serius dalam forum muktamar.
Karena itu, kader KAMMI didorong untuk memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, dan integritas yang kuat agar mampu mengambil bagian dalam memperkuat demokrasi Indonesia.
Sementara itu, fase ketiga, yakni konsolidasi sumber daya strategis, diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader dalam mengelola berbagai potensi bangsa.
Sumber daya strategis tidak hanya mencakup kekayaan alam, tetapi juga sumber daya manusia, teknologi, ekonomi, informasi, serta jaringan sosial yang dapat menjadi modal pembangunan nasional.
Melalui fase ini, KAMMI mendorong lahirnya kader-kader yang unggul, profesional, dan mampu berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan.
Organisasi berharap kader tidak hanya hadir sebagai pengkritik kebijakan, tetapi juga sebagai pelaku perubahan yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Amri Akbar juga menegaskan komitmen KAMMI untuk mengawal percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan Indonesia maritim yang berkeadilan dan berdaulat.
Menurutnya, pembangunan nasional harus memberikan perhatian yang lebih proporsional terhadap daerah-daerah berciri kepulauan yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Ketua Wilayah KAMMI Maluku sekaligus Ketua Panitia Muktamar XIV KAMMI, Mustakim Rumasukun, mengatakan pemilihan Maluku sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Menurutnya, Maluku merupakan salah satu daerah yang selama puluhan tahun berada di garis depan perjuangan lahirnya regulasi khusus bagi wilayah kepulauan.
“Peserta yang hadir berasal dari seluruh Indonesia. Ini merupakan representasi anak bangsa. Selain agenda memilih ketua umum, kami juga fokus mengangkat isu kepulauan karena Indonesia memiliki banyak provinsi berciri kepulauan yang hingga kini masih menghadapi berbagai ketimpangan pembangunan,” ujarnya.
Mustakim menjelaskan bahwa selama lebih dari dua dekade masyarakat Maluku bersama berbagai elemen terus memperjuangkan lahirnya Undang-Undang Daerah Kepulauan.
Regulasi tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab berbagai persoalan konektivitas, distribusi pembangunan, hingga ketimpangan fiskal yang masih dirasakan masyarakat di wilayah kepulauan.
Menurutnya, selama ini perhitungan pembangunan dan alokasi anggaran daerah lebih banyak didasarkan pada jumlah penduduk dan luas wilayah daratan. Padahal, daerah kepulauan memiliki karakteristik yang berbeda karena wilayah lautnya jauh lebih luas serta membutuhkan biaya konektivitas yang lebih besar.
“Selama ini APBD lebih banyak dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan luas daratan. Padahal daerah kepulauan memiliki karakteristik berbeda karena wilayah lautnya jauh lebih luas. Jika Undang-Undang Daerah Kepulauan disahkan, maka aspek luas laut dan kebutuhan konektivitas antarpulau juga akan menjadi dasar perhitungan pembangunan dan transfer anggaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan konektivitas antarpulau menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya biaya logistik, rendahnya akses layanan publik, serta lambatnya pemerataan pembangunan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.
Penyelenggaraan Muktamar XIV KAMMI di Ambon juga memiliki makna simbolik yang kuat.
Maluku yang dikenal sebagai daerah dengan sejarah panjang dalam menjaga persaudaraan, toleransi, dan kehidupan masyarakat yang harmonis dipandang sebagai tempat yang tepat untuk memperkuat agenda konsolidasi kebangsaan.
Dari Ambon, KAMMI mengirimkan pesan bahwa persatuan nasional harus tetap menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan global maupun nasional.
Dengan kehadiran unsur pemerintah daerah, tokoh kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, serta peserta dari berbagai wilayah Indonesia, Muktamar XIV KAMMI tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk merumuskan gagasan besar tentang masa depan bangsa.
Dari Cristian Center Talake Pantai, Ambon, semangat konsolidasi kebangsaan kembali ditegaskan sebagai pijakan utama menuju penguatan demokrasi, percepatan pembangunan daerah kepulauan, dan pengelolaan sumber daya strategis Indonesia yang lebih adil, merata, dan berkelanjutan, (LM-10).










Discussion about this post