by

*Maaf Prof Salim, Eks-ISIS Tertolak Di Pulau Buru, Maluku*

(_*Oleh : Arifudin, Anak Pesisir Pulau Buru*_)

Pak Prof. Salim Haji Said Yang Terhormat. Apakah Pak Prof pernah ke Pulau Buru, Maluku? Hingga Pak Prof dengan enteng menyatakan bahwa eks-ISIS itu dibuang saja ke Pulau Buru.

Pak Prof. yang Mulia, sebagai Anak Pulau Buru, Maluku. Saya dan seluruh masyarakat Pulau Buru sangat kecewa dengan pernyataan Pak Prof tersebut.

Apakah Pak Prof, masih berpikir bahwa pulau Buru saat ini masih menjadi tempat tahanan para G30 S-PKI.

Waeyapo, Savana Jaya dan sebagainya yang dahulunya menjadi tempat tahanan G30 SPKI saat ini telah menjadi Lumbung Padi di Maluku.

Tahun 1960-1970, diakui secara sejarah bahwa pulau Buru menjadi tempat pembuangan Tahanan G30 SPKI. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan anggota Sekretariat Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Oey Hay Djoen serta ribuan rakyat kecil dari Pulau Jawa di asingkan di Pulau tersebut.

Tapi tidak untuk saat ini. Pak Prof, harus tahu bahwa Pulau Buru itu kaya, Minyak Kayu Putih asal Pulau Buru selalu menjadi rebutan para wisatawan, Emas Pulau Buru-pun hingga saat ini masih menjadi incaran para investor.

Pak Prof, ini sudah zaman Now, bukan zaman old. Pulau Buru tahun 1960-an masih penuh dengan hutan belantara tapi saat ini, kini Pulau Buru telah menjadi daerah yang terang benderan.

Masyarakat di Kecamatan Waeyapo (tempat pembuangan G30 SPKI) kini hidup nyaman, menghidupkan masyarakat lainya dengan berbagai hasil tanaman mereka, seperti padi, jeruk, sayur-sayuran dan lain sebagainya.

Anak-anak mereka telah banyak yang menjadi abdi negara, mulai dari TNI, Polisi, Camat, Guru, dan lain sebagainya. Mereka siap mati, rela berkorban demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi, mereka “NKRI Harga Mati” 🇮🇩

Tanggal 19 Maret 2006 lalu, Presiden Presiden SBY berkunjung ke Pulau Buru, dihadapan masyarakat Waeyapo, Presiden menyatakan bahwa ; “Pulau Buru memang tak lagi jadi tanah buangan bagi para narapidana politik, tapi telah menjadi “Tanah Harapan” bagi warga Buru dan lumbung pangan untuk Provinsi Maluku”

Kemudian pada tanggal 8 mei 2015, Presiden Jokowi, lakukan kunjungan ke Pulau Buru untuk mereamikan bendungan Waeyapo (bendungan tersbesar di Maluku, pada saat itu beliau berkata :

“Saya melihat sawah di sini merupakan sawah yang sangat subur. Namun memang memerlukan penanganan intensif, sehingga produksi beras di Provinsi Maluku diambil dari Pulau Buru, bukan dari provinsi lain,”

Dua Presiden RI tersebut, telah mengakui bahwa Pulau Buru telah maju, tidak seperti pulau buru tahun 1960-an yang masih hutan belantara.

Namun, Pak Prof yang tak pernah berkunjung ke Pulau Buru ingin menjadikan Pulau Buru sebagai tempat mengkarantina eks-ISIS.

“Eks-ISIS diperlakukan sebagai bekas Gestapu, taruh di Pulau Buru, apakah caranya yang ditaruh disitu adalah mereka yang terbukti sudah membakar paspornya tersebut dan bagaimana dengan anak-anaknya, kalau anak-anaknya tidak ikut dibawah ke Pulau Buru itu, bagaimana kita mengatasinya? “Kalau kita takut orang itu ngaco, dikarantina saja di Pulau Buru” demikian pernyataan Pak Prof pada menit 2:28- 2:53 dan menit 49.

Jadi maksud peryataan Pak Prof, tersebut apa? Apakah Pak Prof mau jadikan pulau Buru sebagai perumpamaan?

latar belakang sejarah Pulau Buru sebagai daerah pembuangan eks tahanan politik (tapol), sama halnya dengan kembali merusak citra Pulau Buru yang selama ini sudah berubah total menjadi daerah yang berkembang di Provinsi Maluku. Meskipun apa yang disampaikan itu hanyalah sebagai contoh sekaligus cara yang dianggap pas, namun mengaitkan Pulau Buru sebagai daerah karantina yang pas bagi mantan anggota ISIS bisa menuai protes masyarakat Maluku.

“Biarlah sejarah mencatat Pulau Buru sebagai tempat buangan eks tapol PKI. Tapi  bukan  lantas saat ini dianggap layak dijadikan sebagai tempat karantina  orang-orang dengan paham radikal.

mengaku, sejak beredarnya video talk show di salah satu stasiun TV yang menampilkan komentar Prof Salim Said tentang ISIS dengan mengaitkan Pulau Buru sebagai daerah yang dicontohkan untuk mengkarantina ISIS itu, telah memicu aksi protes dari masyarakat Maluku secara luas.

BACA JUGA
loading...

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *