Lensa Maluku, – Usai peringatan Hari Pendidikan Nasional, pesan tentang pentingnya pendidikan kembali digaungkan. Namun di Buru Selatan, makna itu terasa lebih dalam—bukan hanya tentang sekolah, tetapi tentang manusia yang menghidupkan pendidikan: para guru.
“Ada sebuah kisah yang sering diceritakan tentang Kaisar Hirohito setelah tragedi Pemboman Hiroshima dan Nagasaki. Konon, hal pertama yang ia tanyakan bukanlah jumlah bangunan yang tersisa, melainkan berapa banyak guru yang masih hidup. Kisah ini, benar atau tidak, menyimpan pesan kuat: ketika segalanya hancur, pendidikan—dan guru—adalah kunci untuk bangkit kembali,” pesannya.
Semangat itulah yang kini sejalan dengan harapan Ketua DPRD Buru Selatan, Ahmad Umasmangadji. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan akses di wilayah seperti Fena Fafan, Kepala Madan, Waesama, Ambalau, hingga Namrole, peran guru menjadi semakin berarti.
Di pelosok-pelosok tersebut, guru bukan hanya pengajar. Mereka adalah penggerak harapan, penyalur ilmu, sekaligus penjaga mimpi anak-anak yang hidup jauh dari pusat kemajuan. Dalam keterbatasan fasilitas, mereka tetap hadir—menembus jarak, menghadapi medan sulit, bahkan terkadang dengan sarana seadanya.
Namun, dedikasi itu sering kali belum sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima. Padahal, jika ingin membangun pendidikan yang kuat dan merata, perhatian terhadap guru harus menjadi prioritas utama.
Pembangunan pendidikan yang humanis berarti melihat guru sebagai inti dari perubahan. Bukan sekadar pelengkap sistem, tetapi fondasi yang menentukan arah masa depan generasi muda. Ketika guru dihargai, dilindungi, dan didukung, maka kualitas pendidikan akan tumbuh secara alami.
Ketua DPRD Buru Selatan menegaskan bahwa tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses. Namun di balik itu, ada pesan yang tak kalah penting: tidak boleh ada guru yang berjuang sendirian.
Membangun sekolah memang penting, tetapi membangun kepercayaan, kesejahteraan, dan semangat para guru jauh lebih menentukan. Karena dari tangan merekalah, masa depan daerah ini dibentuk—pelan, namun pasti.
Jika suatu hari Buru Selatan mampu berdiri sejajar dengan daerah maju lainnya, maka itu bukan hanya karena pembangunan fisik, melainkan karena ketulusan para guru yang tak pernah berhenti mengajar, bahkan di tempat-tempat yang sering terlupakan.(LM-03)










Discussion about this post