Lensa Maluku – Kalau ada satu wilayah di Maluku Tengah yang menjadi simbol kebangkitan ekonomi baru, itu adalah Teluk Elpaputih.
Selama puluhan tahun, warga di Negeri Liang, Tananahu, dan sekitarnya hidup dari kelapa. Tapi hasilnya hanya kopra. Harga murah. Dijual ke tengkulak. Tidak pernah naik kelas.
Kini di bawah kepemimpinan Bupati Maluku Tengah, Bapak Zulkarnain Awat Amir, sejarah itu diubah.
Pada 29 April 2026, Bupati Zulkarnain bersama Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa melakukan groundbreaking pabrik hilirisasi kelapa dan pala di Awaiya, Teluk Elpaputih. Nilai investasinya Rp 640 miliar. Pabrik kelapa Rp 500 miliar, pabrik pala Rp 140 miliar. Dikelola PTPN I Regional VIII. Kapasitas 300.000 butir per hari.
Ini adalah lompatan besar. Bupati Zulkarnain dalam sambutannya menegaskan: “Yang kita lakukan hari ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah langkah strategis menuju transformasi ekonomi daerah. Kita ingin Maluku Tengah bangkit menjadi daerah yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.”
Pernyataan itu bukan retorika. Maluku Tengah memang dikenal sebagai sentra kelapa dan pala. Fenomena menarik terjadi, “Sekarang ini, tidak berkebun tidak keren,” kata Bupati. Aparatur, pengusaha, hingga anak muda berlomba mengelola kebun.
Tapi masalah klasik tetap ada: kita jual mentah. Padahal nilai tambah terbesar ada di hilirisasi: VCO, coconut milk, desiccated coconut, activated carbon dari tempurung, hingga minyak pala untuk farmasi dan parfum.
Dengan pabrik ini, rantai itu diputus. Petani dapat harga lebih baik. Tenaga kerja lokal terserap. Uang berputar di Maluku Tengah.
Sebagai Ketua Yayasan Salawano Maluku, saya melihat kepemimpinan Bupati Zulkarnain punya 3 keunggulan dalam proyek ini.
Pertama, berani menarik investasi besar ke wilayah yang selama ini dianggap pinggiran. Elpaputih bukan Ambon, tapi Bupati menjadikannya pusat industri baru.
Kedua, mengawinkan kepentingan investasi dengan kepentingan adat. Meski ada dinamika soal lahan 3.458 ha di petuanan Tananahu, Bupati memilih jalur dialog, bukan konflik.
Ketiga, visi jangka panjang. Pabrik ini dibangun di atas HGU 8.000 ha dengan legalitas jelas (HGU No. 41/2019). Bukan proyek mercusuar 1 tahun.
Tantangan ke depan adalah memastikan petani tidak jadi penonton. Yayasan Salawano Maluku siap bersinergi dengan Pemkab untuk pendampingan mutu dan pembentukan koperasi pemasok.
El Paputih sudah bangkit. Di tangan Bupati Zulkarnain, kita berharap kebangkitan itu sampai ke dapur petani.(LM-10).









Discussion about this post