by

ABDA’u

-Berita, Maluku-308 views

Tradisi abdau adalah bagian dari parade budaya lokal di Negeri Tulehu, yang terletak di sebelah timur kota Ambon atau sekitar 25 kilometer dari Ambon. Parade budaya ini dirayakan setiap tahun pada Hari Raya Idul Kurban.

Atraksi abdau dilakukan dengan cara, ratusan pemuda dengan sekuat tenaga memperebutkan sebuah bendera bertuliskan huruf arab warna putih “Lailaha ilallah muhammadarrasulullah” (Kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Bedera hijau berenda benang kuning emas itu diikatkan ke tongkat bambu sepanjang 2 meter. Warna hijau melambangkan kesuburan, warna kuning emas melambangkan kemakmuran.

Nuansa kekerasan sangat kental dalam ritual ini. Ratusan pemuda, tua dan muda berdesak-desakan, ada yang melompat dari atas pagar atau atap rumah supaya bisa berada di atas kerumunan dan berjalan di atas tubuh-tubuh yang sedang berebut bendera. Tak jarang, mereka yang berdiri di atas tubuh teman-temannya jatuh ke tanah dan terinjak kerumunan yang sedang bersemangat tinggi. Rebutan bendera ini dilakukan sambil mengelilingi negeri hingga berakhir di Masjid Raya Negeri Tulehu. Selain atraksi abdau, sejumlah atraksi lain juga dipertontonkan seperti dabus, ilmu alfitrah, tarian sawat, tarian ma’ateru atau cakalele dan sejumlah atraksi budaya lainnya.

Sebagian pemuka adat dan agama di Tulehu mengatakan, tradisi abdau berasal dari kata abada yang artinya ibadah. Secara harfiah, abdau merupakan sebuah pengabdian seorang hamba kepada Sang Pencipta. Asal usul tradisi Abdau diperkirakan dimulai sekitar tahun 1500 Masehi, seabad setelah masuknya Islam ke Tanah Hitu atau Jazirah Leihitu.

Abdau diselenggarakan secara rutin setiap Hari Raya Idul Adha karena dua alasan. Pertama, abdau merupakan refleksi nilai sejarah yang terinspirasi dari sikap pemuda Ansar yang dengan gagah dan gembira menyambut hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristwa itulah yang mengawali penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Alasan kedua, abdau merupakan refeksi dari masyarakat Tulehu tempo dulu yang hidup berkelompok di hena-hena (kampung-kampung kecil) di antara Gunung Salahutu hingga bukit Huwe, yang belum mengenal agama samawi. Mereka menyambut para ulama yang membawa ajaran agama Islam dengan rasa syukur, ikhlas, dan gembira. Masuknya Islam ke Tanah Hitu, khususnya Uli Solemata di bagian timur Salahutu adalah sebuah proses perubahan peradaban manusia menjadi lebih baik.

Sumber :

http://davefeodora.blogspot.com/2011/05/tradisi-abdau-tulehu-maluku.html

BACA JUGA
loading...

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *