Lensa Maluku – Jabatan tinggi dan kesibukan di tingkat nasional tidak boleh menjadi tembok yang menjauhkan seseorang dari masyarakat. Prinsip itulah yang terus dipegang Komisaris Utama PT PLN Energy Gas, Saiful Chaniago, SE, dalam merawat hubungan persaudaraan dan silaturahmi, khususnya bersama generasi muda Maluku.
Di tengah kesibukannya menjalankan amanah strategis di Jakarta, Saiful yang akrab disapa Bang Iful menegaskan, jabatan bukanlah alasan untuk menjaga jarak dengan masyarakat.
Baginya, jabatan merupakan amanah yang sewaktu-waktu dapat berganti. Namun, hubungan persaudaraan dan silaturahmi harus tetap dirawat tanpa mengenal batas ruang maupun waktu.
“Sekalipun saya diberikan amanah besar sebagai Komisaris Utama PT PLN Energy Gas di Jakarta, tetapi sudah menjadi tanggung jawab kita untuk tetap merawat dan menjaga silaturahmi,” tegas Iful.
Menurutnya, silaturahmi tidak boleh berhenti pada pertemuan seremonial. Lebih dari itu, silaturahmi merupakan ruang untuk membangun komunikasi, bertukar pikiran, memperkuat persaudaraan sekaligus menjaga kebersamaan di tengah perbedaan.
Perhatian Iful secara khusus diarahkan kepada generasi muda Maluku. Ia melihat pemuda sebagai salah satu kekuatan penting yang akan menentukan wajah dan arah masa depan daerah.
Karena itu, persatuan di kalangan pemuda harus menjadi sesuatu yang terus dijaga. Perbedaan pandangan, latar belakang, maupun pilihan tidak semestinya berubah menjadi sekat yang memutus tali persaudaraan.
“Jabatan bisa datang dan berganti. Kesibukan juga bisa berubah. Tetapi persaudaraan dan silaturahmi jangan sampai terputus,” pesannya.
Iful menilai pemuda Maluku membutuhkan ruang komunikasi yang sehat, terbuka dan konstruktif. Pemerintah, tokoh masyarakat, dunia usaha dan generasi muda, menurutnya, harus mampu membangun komunikasi yang saling menguatkan.
Sebab, kemajuan Maluku tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah maupun besarnya potensi sumber daya alam. Kualitas sumber daya manusia serta kemampuan masyarakat menjaga persatuan juga menjadi modal penting dalam pembangunan daerah.
Tak Mengenal Waktu, Silaturahmi Tetap Jalan
Kesibukan di tingkat nasional tidak membuat Iful berhenti membangun komunikasi dengan masyarakat. Di sela-sela aktivitasnya, ia masih menyempatkan diri berdiskusi dan bertukar pikiran bersama tokoh masyarakat maupun anak-anak muda Maluku.
Bahkan, warung kopi dan sudut-sudut kota menjadi ruang sederhana tempat komunikasi itu berlangsung.
Kehadiran Iful di tengah publik, terutama generasi memberikan ruang kenyamanan dalam berdiskusi.
Tidak selalu harus dalam forum resmi. Bagi Iful, percakapan sederhana justru dapat menjadi ruang untuk mendengar aspirasi, memahami keresahan anak muda sekaligus berbagi pengalaman.
“Saya kira nostalgia bersama generasi muda itu penting”.
Sikap tersebut tidak terlepas dari perjalanan dirinya yang mengaku lahir dari lingkungan aktivis. Karena itu, hubungan dengan generasi muda bukan sekadar agenda sesaat, tetapi bagian dari perjalanan yang terus ingin ia rawat.
“Saya lahir dari aktivis. Tentunya saya percaya silaturahmi bersama anak-anak muda di Maluku akan selalu terawat dengan baik,” ungkapnya.
Ia juga mendorong pemuda Maluku agar tidak sekadar menjadi penonton dalam proses pembangunan. Generasi muda harus berani mengambil peran, meningkatkan kapasitas dan menunjukkan kemampuan di berbagai bidang.
“Pemuda harus berani mengambil peran. Jangan merasa kecil hanya karena berasal dari daerah. Kita punya potensi dan kemampuan yang harus ditingkatkan dengan baik,” katanya.
Menurut Iful, Maluku memiliki banyak anak muda potensial yang membutuhkan ruang untuk berkembang. Karena itu, komunikasi lintas generasi harus terus dibangun agar pengalaman para tokoh dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya.
Tokoh Maluku yang mendapat amanah di tingkat nasional, lanjutnya, tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan motivasi, membuka ruang dialog dan mendorong generasi muda agar percaya diri mengambil bagian dalam pembangunan.
Ia pun mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Sebaliknya, perbedaan harus ditempatkan sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama, tetapi bagaimana perbedaan tetap berada dalam bingkai persaudaraan.
“Silaturahmi harus terus kita rawat. Persaudaraan jangan sampai putus hanya karena perbedaan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan,” pungkas Iful.(LM-03)










Discussion about this post