Melihat Langsung Kondisi Pesantren, Bupati La Hamidi Janji Bantu Santri Mansyaul Ulum
Lensa Maluku, – Kepedulian terhadap pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Bagi Bupati Buru Selatan La Hamidi, perhatian itu juga perlu hadir dengan melihat langsung tempat anak-anak belajar dan menjalani kesehariannya.
Hal itu terlihat saat La Hamidi mengunjungi Pondok Pesantren Mansyaul Ulum di Wali, Kabupaten Buru Selatan, Maluku, Rabu (9/9/2026).
Ia datang bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buru Selatan WA Uma Hamid, Anggota DPRD dari PDI Perjuangan Said Sabi dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).
Dalam kunjungan tersebut, La Hamidi menyempatkan diri melihat kondisi pesantren secara langsung.
Ia meninjau fasilitas sanitasi, bangunan pondok dan masjid, serta kondisi ketersediaan air yang digunakan untuk menunjang aktivitas para santri.
Bupati juga berdiskusi dengan para santri di ruang kelas SMP. Dari pertemuan sederhana itu, La Hamidi dapat melihat lebih dekat bagaimana proses belajar berlangsung sekaligus memahami kebutuhan yang masih dihadapi pesantren.
Perhatian La Hamidi tidak berhenti pada melihat kondisi di lapangan. Ia merespons kebutuhan tersebut dengan menyatakan kesediaannya untuk membantu pembangunan Pondok Pesantren Mansyaul Ulum.
Dukungan itu menjadi penting bagi pesantren yang masih membutuhkan berbagai pembenahan sarana dan prasarana.
Terlebih, fasilitas yang memadai merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi para santri.
Bagi La Hamidi, perhatian terhadap pesantren juga merupakan bagian dari perhatian terhadap masa depan generasi muda.
Di tempat seperti Mansyaul Ulum, para santri tidak hanya belajar pengetahuan agama, tetapi juga tumbuh dengan nilai-nilai pendidikan dan pembentukan karakter.
Diketahui, Pondok Pesantren Mansyaul Ulum digagas dan diinisiasi pembangunannya oleh Said Sabi tokoh masyarakat yang juga anggota DPRD Kabupaten Buru Selatan. Pembangunannya juga mendapat dukungan dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).
Kunjungan La Hamidi menjadi penanda bahwa keberadaan pesantren mendapat perhatian pemerintah daerah.
Di tengah keterbatasan yang ada, kepedulian semacam itu memberi harapan bagi para santri bahwa tempat mereka belajar dan menuntut ilmu tidak berjalan sendirian. Ada perhatian yang datang untuk memastikan mereka tetap memiliki ruang yang layak untuk belajar dan tumbuh.(LM-03)







Discussion about this post