Lensa Maluku – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) resmi menetapkan Amri Akbar sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI periode 2026–2028 dalam forum Muktamar XIV KAMMI yang berlangsung di Asrama Haji Ambon, Provinsi Maluku.
Penetapan tersebut menjadi puncak dari rangkaian proses musyawarah nasional organisasi yang digelar sejak 22 hingga 28 Juni 2026 dengan mengusung tema “Meneguhkan Kepemimpinan Mahasiswa Muslim untuk Indonesia Maritim yang Berkeadilan dan Berdaulat.”
Muktamar XIV tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi mahasiswa Islam untuk menentukan arah gerakan dan kepemimpinan nasional di tengah berbagai tantangan sosial, politik, ekonomi, dan kebangsaan yang dihadapi Indonesia.
Forum tertinggi organisasi itu juga menandai dimulainya babak baru perjalanan KAMMI setelah melalui berbagai dinamika internal yang berkembang selama proses persidangan.
Penetapan Amri Akbar dilakukan melalui mekanisme persidangan muktamar yang dipimpin Hamzan selaku pimpinan sidang.
Selain menetapkan Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, forum juga memilih Syafrul Ardi, Nugra Ferdino, Herianto, dan Imron sebagai Mide Formatur yang akan mendampingi proses penyusunan kepengurusan nasional.
Sementara itu, posisi anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) dipercayakan kepada Wira Putra, M. Fachry, dan Fathiyakan Abdullah.
Dalam pidato perdananya setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum, Amri Akbar menyampaikan pesan persatuan sekaligus mengajak seluruh kader untuk menjadikan hasil Muktamar XIV sebagai titik awal kebangkitan baru organisasi.
Ia menekankan bahwa KAMMI harus hadir sebagai rumah besar yang nyaman bagi seluruh kader tanpa memandang latar belakang, daerah, maupun perbedaan pandangan yang muncul selama proses demokrasi organisasi.
Menurutnya, organisasi yang sehat bukan hanya mampu melahirkan kader-kader unggul, tetapi juga menyediakan ruang yang aman dan nyaman bagi proses pembelajaran, pengembangan kapasitas, serta pembentukan karakter kepemimpinan.
“KAMMI harus menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh kader. Rumah yang bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat bertumbuh, belajar, berproses, dan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan bangsa,” tegas Amri di hadapan peserta muktamar.
Ia menilai masa depan KAMMI tidak ditentukan oleh figur tertentu atau kelompok tertentu, melainkan oleh kontribusi seluruh kader yang terus bergerak dan berkarya di berbagai wilayah Indonesia.
Karena itu, setiap kader memiliki tanggung jawab yang sama dalam menentukan arah dan masa depan organisasi.
Dalam pidatonya, Amri menggunakan analogi yang menarik untuk menggambarkan peran kader dalam sejarah organisasi. Ia menyebut setiap kader KAMMI ibarat sebuah pulpen yang memiliki kesempatan menulis sejarahnya sendiri.
“Tinta sejarah ada di tangan kita. Kita yang menentukan cerita apa yang akan ditulis untuk masa depan KAMMI,” ujarnya
“Apakah kita ingin meninggalkan jejak perubahan atau sekadar menjadi penonton dalam perjalanan sejarah, semuanya bergantung pada pilihan dan kerja keras kita hari ini,” lanjut Amri.
Salah satu pesan utama yang mengemuka dalam pidato Ketua Umum terpilih adalah pentingnya menjaga persatuan organisasi pasca-muktamar.
Amri mengingatkan bahwa perbedaan pilihan, strategi, maupun pendekatan yang muncul selama proses kontestasi merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat.
Menurutnya, perbedaan tidak boleh berkembang menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman gagasan harus menjadi kekuatan yang memperkaya gerakan KAMMI dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
“Kita boleh berbeda cara, berbeda pendekatan, bahkan berbeda sikap dalam menyikapi isu-isu tertentu. Tetapi selama prinsip perjuangan kita sama dan orientasi kita tetap untuk kemajuan umat, bangsa, dan organisasi, maka perbedaan itu adalah kekuatan, bukan ancaman,” katanya.
Pernyataan tersebut disambut positif oleh peserta muktamar karena dinilai mencerminkan semangat rekonsiliasi sekaligus memperkuat kohesi internal organisasi setelah berlangsungnya proses pemilihan.
Amri juga menegaskan komitmennya untuk membangun pola kepemimpinan yang lebih inklusif dan partisipatif. Ia menilai KAMMI sebagai organisasi nasional harus mampu memberikan ruang yang luas bagi aspirasi kader di tingkat wilayah maupun daerah.
Dalam pandangannya, organisasi besar tidak dibangun melalui keseragaman pemikiran, melainkan melalui kesatuan visi yang mampu mengakomodasi berbagai gagasan konstruktif dari seluruh elemen organisasi.
“Saya ingin memastikan bahwa KAMMI menjadi organisasi yang terbuka. Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah tidak harus selalu seragam dengan pusat dalam setiap pandangan. Yang kita bangun adalah kesamaan visi, bukan keseragaman berpikir,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa organisasi yang mampu merawat perbedaan secara dewasa akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal.
Penguatan Kaderisasi Jadi Prioritas
Selain isu persatuan dan tata kelola organisasi, Amri menempatkan kaderisasi sebagai agenda utama kepemimpinannya selama dua tahun ke depan.
Ia menilai tantangan bangsa yang semakin kompleks membutuhkan lebih banyak pemimpin muda yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.
Karena itu, seluruh perangkat organisasi diminta kembali menempatkan kaderisasi sebagai jantung gerakan KAMMI.
“Fokus utama kita ke depan adalah melahirkan kader-kader pemimpin. Kita ingin kader KAMMI hadir dan memimpin di berbagai sektor strategis, baik di kampus, birokrasi, dunia usaha, lembaga sosial, maupun ruang-ruang pengabdian lainnya,” tegasnya.
Menurut Amri, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari jumlah kader yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas kontribusi kader terhadap pembangunan bangsa dan kemajuan masyarakat.
Kembalikan Kejayaan KAMMI di Kampus
Secara khusus, Amri mengajak seluruh kader untuk mengembalikan tradisi kepemimpinan KAMMI di lingkungan perguruan tinggi. Ia menilai kampus merupakan ruang strategis untuk membangun kepemimpinan intelektual dan gerakan perubahan sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan organisasi mahasiswa di berbagai kampus semakin dinamis.
Oleh karena itu, KAMMI harus mampu memperkuat kembali eksistensi dan pengaruhnya melalui kader-kader yang aktif, kompeten, serta memiliki gagasan yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
“Kita harus mengembalikan kejayaan KAMMI sebagai rahim kepemimpinan mahasiswa Indonesia. Kita ingin kembali melihat kader-kader KAMMI memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa di berbagai kampus, memimpin gerakan intelektual, dan menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Amri menegaskan bahwa KAMMI tidak boleh terjebak pada romantisme sejarah masa lalu. Menurutnya, organisasi harus mampu membaca perubahan zaman dan menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa.
Tantangan seperti ketimpangan ekonomi, krisis kepemimpinan, transformasi digital, isu lingkungan, hingga penguatan kedaulatan nasional harus dijawab dengan gagasan yang relevan dan kerja nyata.
“Muktamar ini bukan sekadar memilih ketua umum. Muktamar ini adalah momentum memperbarui semangat perjuangan. Kita harus hadir sebagai organisasi yang relevan, adaptif, dan mampu memberikan solusi atas persoalan umat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Saatnya Bersatu Membangun KAMMI
Menutup pidatonya, Amri mengajak seluruh peserta muktamar dan kader di seluruh Indonesia untuk mengakhiri berbagai perbedaan yang muncul selama proses pemilihan dan kembali fokus membangun organisasi.
Ia menekankan bahwa setelah kompetisi selesai, seluruh kader memiliki tanggung jawab yang sama untuk membawa KAMMI menjadi organisasi yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengaruh dalam kehidupan kebangsaan.
“Kompetisi telah selesai. Hari ini tidak ada lagi kelompok A atau kelompok B. Yang ada adalah KAMMI. Yang ada adalah cita-cita besar untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Mari kita rapatkan barisan, satukan langkah, dan bergerak bersama menjemput masa depan KAMMI yang lebih besar,” pungkasnya.
Muktamar XIV KAMMI di Ambon tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi konsolidasi gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
Dengan semangat persatuan, penguatan kaderisasi, serta komitmen membangun organisasi yang terbuka dan inklusif, kepemimpinan Amri Akbar diharapkan mampu membawa KAMMI semakin relevan dalam menjawab tantangan zaman dan berkontribusi bagi masa depan bangsa. (LM-10).









Discussion about this post