Lensa Maluku, – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali tunjukkan hasil nyata. Meskipun menghadapi keterbatasan sarana dan lahan, Warga Binaan dan petugas berhasil panen dua jenis sayuran segar berupa 13 kg tomat dan lima ikat kangkung dari dalam area Lapas dan kebun perumahan dinas di luar tembok, Kamis (8/1).
Keberhasilan ini menjadi bukti konkret implementasi program ketahanan pangan mandiri di balik jeruji yang relevan dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) tentang kemandirian pangan dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program pembinaan pertanian untuk memberikan keterampilan praktis kepada Warga Binaan sebagai bekal mereka saat kembali ke masyarakat.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menjelaskan program ini dilaksanakan secara terstruktur dan melibatkan Warga Binaan yang telah memenuhi syarat pembinaan. “Mulai dari tahap penyemaian, perawatan, hingga panen, seluruh proses dilakukan oleh Warga Binaan dengan pendampingan petugas. Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga menanamkan nilai kerja sama, kesabaran, dan etos kerja,” jelasnya.
Menurut Merpaty, antusiasme Warga Binaan terhadap program pertanian cukup tinggi karena mereka dapat melihat langsung hasil dari kerja keras yang dilakukan. “Ini menjadi sarana pembinaan yang efektif karena Warga Binaan merasa dilibatkan dan dihargai. Hasil panen yang baik tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengapresiasi semangat produktivitas Warga Binaan. Ia menekankan ruang yang sempit dan lahan terbatas bukanlah penghalang untuk menciptakan kemandirian pangan.
“Keberhasilan panen kangkung dan tomat secara bersamaan ini menunjukkan program pembinaan yang produktif dan berorientasi pada hasil nyata berjalan optimal,” kata Tersih.
Ia menambahkan pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian menjadi bekal penting bagi Warga Binaan ketika kembali ke tengah masyarakat. “Kami berharap keterampilan yang diperoleh melalui program ini dimanfaatkan oleh Warga Binaan sebagai modal usaha atau sumber penghidupan yang halal setelah mereka bebas,” harap Tersih.
Dukungan dan apresiasi juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Ia menilai keberhasilan program pertanian di Lapas Wahai sebagai implementasi pembinaan Pemasyarakatan yang produktif dan berdampak langsung.
“Program ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pemerintah yang berjenjang dari Asta Cita Presiden RI, Program Aksi Kemenimipas, hingga ke teknis di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Kami mengapresiasi Lapas Wahai yang mampu berinovasi dan mengoptimalkan potensi yang ada meskipun dengan sarana dan prasarana yang terbatas,” puji Ricky seraya menegaskan akan terus mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di wilayah Maluku untuk mengembangkan program pertanian dalam mendukung kemandirian pangan.
Melalui keberhasilan panen sayuran segar secara terus-menerus ini, Lapas Wahai berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian, sejalan dengan semangat Pemasyarakatan yang berorientasi pada pembinaan, pemberdayaan, dan reintegrasi sosial. Program ini diharapkan tidak hanya menjaga ketahanan pangan mandiri di lingkungan Lapas Wahai, tetapi juga turut mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pembinaan karakter dan keterampilan Warga Binaan.(LM-05)













Discussion about this post