Lensa Maluku – Potensi gas Maluku tidak boleh selamanya hanya menjadi kekayaan alam yang tercatat dalam peta energi nasional. Kekayaan tersebut harus diubah menjadi energi produktif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, membuka lapangan kerja, memperkuat kelistrikan, serta menggerakkan perekonomian daerah.
Komitmen itu ditegaskan Komisaris Utama PLN Energi Gas, Saiful Chaniago, SE, saat ditemui sejumlah awak media di Rumah Kopi 95. Saiful akrab di sapa bang Iful mengungkapkan, pihaknya tengah menyiapkan langkah pembangunan infrastruktur gas yang diarahkan untuk menjangkau 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Sabtu, 11/09/2026.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur gas tidak boleh dipandang sebatas proyek pembangunan fasilitas energi. Infrastruktur tersebut harus menjadi penghubung antara potensi sumber daya alam Maluku dengan kebutuhan energi masyarakat dan kepentingan pembangunan daerah.
“Potensi gas yang dimiliki Maluku harus mampu memberikan dampak ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat. Energi jangan hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi harus menjadi kekuatan untuk mendorong kesejahteraan rakyat,” tegas Iful.
Ia menjelaskan, PLN Energi Gas akan melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah di kawasan Indonesia Timur, dengan Maluku menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus.
Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk melihat langsung kondisi wilayah, kebutuhan energi, sekaligus kesiapan infrastruktur yang diperlukan. Iful menjelaskan pembangunan energi di Maluku harus disusun berdasarkan kondisi geografis daerah yang merupakan wilayah kepulauan. Karena itu, pembangunan jaringan gas tidak dapat menggunakan satu pola untuk seluruh wilayah.
Daerah yang memungkinkan terkoneksi melalui jaringan pipa dapat menggunakan sistem perpipaan. Sementara wilayah kepulauan yang terpisah dan tidak memungkinkan dibangun jaringan pipa dapat dilayani melalui jalur laut dengan dukungan moda transportasi serta fasilitas pengangkutan gas yang memenuhi standar keselamatan.
“Maluku adalah wilayah kepulauan. Tidak semua daerah bisa menggunakan jaringan pipa. Karena itu, skema distribusi harus menyesuaikan karakter geografis masing-masing wilayah, termasuk menggunakan transportasi laut untuk menjangkau pulau-pulau yang membutuhkan pasokan gas,” jelasnya.
Bukan Hulu, Fokus Perkuat Hilir
Komisaris Utama tersebut kemudian meluruskan posisi PLN Energi Gas dalam pengembangan energi di Maluku. Menurutnya, PLN Energi Gas tidak berada pada sektor hulu yang melakukan eksplorasi maupun produksi gas.
Fokusnya berada pada pembangunan dan penyediaan fasilitas serta layanan agar gas yang tersedia dapat dimanfaatkan dan disalurkan secara optimal, terutama untuk mendukung kebutuhan kelistrikan.
“Kami bukan berada di sektor hulu. Posisi kami adalah menyiapkan fasilitas dan pelayanan sehingga gas tersebut bisa dimanfaatkan dan disalurkan untuk kebutuhan masyarakat, terutama mendukung kelistrikan,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan sektor hilir menjadi bagian penting agar potensi gas yang tersedia tidak berhenti sebagai sumber daya alam, tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan kebutuhan domestik.
Tekan Ketergantungan BBM
Sektor kelistrikan menjadi salah satu perhatian utama dalam pemanfaatan gas. Iful menilai gas memiliki prospek besar untuk mendukung efisiensi dan keandalan pasokan listrik.
Pemanfaatan gas sebagai sumber energi pembangkit dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi tantangan biaya dan distribusi energi.
“Gas memiliki prospek yang sangat baik untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat. Kita ingin masyarakat mendapatkan energi yang lebih efisien, terjangkau, dan pelayanan kelistrikan yang optimal,” katanya.
Bukan Sekadar Proyek Fisik
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur gas harus dilihat dari dampak ekonominya secara menyeluruh.
Ketika fasilitas energi dibangun, kata dia, akan muncul kebutuhan tenaga kerja, jasa konstruksi, transportasi, logistik, pemeliharaan, hingga berbagai aktivitas ekonomi pendukung lainnya.
Karena itu, pembangunan infrastruktur gas berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru yang dapat melibatkan masyarakat serta pelaku usaha lokal.
“Dampak ekonominya akan sangat besar. Infrastruktur yang dibangun bukan hanya soal energi, tetapi juga menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah,” tegasnya.
Pemberdayaan masyarakat lokal, peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku ekonomi daerah, menurut Iful, harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan energi di Maluku.
Gas Masela Harus Beri Nilai Tambah
Di tengah rencana pengembangan infrastruktur tersebut, keberadaan potensi Gas Masela semakin menempatkan Maluku pada posisi strategis dalam peta energi nasional.
Namun, tantangannya bukan semata bagaimana gas diproduksi. Tantangan yang tidak kalah penting adalah bagaimana infrastruktur hilir dipersiapkan sehingga energi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan domestik, termasuk mendukung kelistrikan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ia juga menyampaikan, potensi energi Maluku harus memiliki hubungan langsung dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi gas Maluku harus memberi manfaat bagi rakyat Maluku. Energi harus menjadi kekuatan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dan mempercepat pembangunan Indonesia Timur,” ujarnya.
Putra Maluku: Ada Tanggung Jawab Moral
Sebagai putra Maluku, Saiful mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong percepatan pembangunan energi di daerah asalnya.
Ia menyebut, untuk sejumlah lokasi, persiapan awal telah dilakukan dan tinggal memasuki tahapan pembangunan sesuai dengan proses yang berlaku.
“Sebagai putra daerah, tentu saya memiliki kepentingan moral untuk mempercepat pembangunan ini. Untuk beberapa lokasi, persiapannya sudah dilakukan dan tinggal memasuki tahapan pembangunan,” tegasnya.
Pengalaman PLN Energi Gas dalam mengembangkan infrastruktur serupa di sejumlah wilayah Indonesia, menurutnya, menjadi modal untuk membangun pola yang disesuaikan dengan karakter geografis Maluku.
Dengan kondisi kepulauan yang kompleks, pembangunan energi membutuhkan perencanaan matang serta integrasi antara jaringan darat dan transportasi laut.
Pada akhirnya, rencana pembangunan infrastruktur gas di 11 kabupaten/kota Maluku bukan sekadar berbicara tentang pipa, fasilitas penyimpanan, kapal pengangkut maupun jaringan distribusi.
Lebih jauh, proyek tersebut menyangkut masa depan energi dan ekonomi Maluku.
Jika dikelola secara tepat, potensi gas dapat menjadi penggerak ekonomi baru, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat sektor kelistrikan, meningkatkan efisiensi energi, serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah kepulauan.
Maluku tidak boleh hanya menjadi daerah yang memiliki potensi energi. Maluku harus menjadi daerah yang ikut menikmati nilai tambah dari kekayaan energinya sendiri.
Di titik itulah pembangunan infrastruktur gas menjadi strategis: menghubungkan potensi energi dengan kebutuhan rakyat dan mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi bagi Maluku dan Indonesia Timur.(LM-10).









Discussion about this post