Lensa Maluku – Suasana meriah dan khidmat menyelimuti Ohoi Banda Ely, Kecamatan Kei Besar Utara Timur, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (7/11/2026). Ribuan masyarakat memadati pelataran Masjid Al-Mukarramah untuk menyaksikan momentum bersejarah yang telah dinantikan selama kurang lebih tujuh tahun, yakni peresmian rumah ibadah kebanggaan masyarakat Banda Ely.
Ohoi Banda Ely yang dikenal sebagai tempat bermukimnya masyarakat Wandan, keturunan orang Banda yang telah berhijrah dan menetap di tanah Kei sejak ratusan tahun silam, kembali memperlihatkan kekuatan tradisi, persaudaraan, dan nilai-nilai keagamaan yang tetap terpelihara hingga kini.
Peresmian Masjid Al-Mukarramah dilakukan langsung oleh Bupati Maluku Tenggara, Drs. Hi. M. Thaher Hanubun, melalui penandatanganan prasasti yang disaksikan Raja Ohoi Banda Ely, H. Almudin B. Latar, bersama unsur Forkopimda dan tamu undangan lainnya.
Momentum tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur G. Watubun, ST., SH., dan Anggota DPR RI, Saadia Uluputty. Kedua tokoh politik Maluku dari latar belakang partai berbeda, PDI Perjuangan dan PKS, tampak duduk bersama di meja kehormatan serta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat.
Kehadiran keduanya bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi juga menjadi gambaran pentingnya membangun kebersamaan dan persaudaraan di tengah keberagaman. Peristiwa keagamaan seperti ini menjadi ruang perjumpaan seluruh elemen masyarakat, melampaui perbedaan latar belakang politik maupun organisasi.
Turut hadir Wali Kota Tual H. Akhmad Yani Renuat, Wakil Wali Kota Tual Amir Rumra, Ketua DPRD Kabupaten Maluku Tenggara Stefanus Layanan, anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, serta panitia pembangunan Masjid Al-Mukarramah.
Para Rat Dari Berbagai Ohoi Turut Hadir
Salah satu pemandangan yang memberikan makna tersendiri dalam peresmian tersebut adalah kehadiran para Rat dari berbagai Ohoi di wilayah Kei Besar, Kei Kecil, hingga Kota Tual.
Dalam tatanan adat masyarakat Kei, Rat merupakan pemimpin adat yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Ohoi. Karena itu, kehadiran para Rat dalam momentum peresmian masjid ini menjadi gambaran kuatnya dukungan dan kebersamaan masyarakat adat terhadap pembangunan rumah ibadah.
Kehadiran para pemimpin adat tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Masjid Al-Mukarramah bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Banda Ely, tetapi juga bagian dari ikatan persaudaraan masyarakat Kei secara luas.
Di Sambut Dengan Kehormatan Adat Wandan
Sebelum memasuki lokasi kegiatan, rombongan tamu undangan disambut melalui prosesi adat oleh para tetua adat dan Rat Ohoi Banda Ely. Penyambutan berlangsung meriah dengan iringan tarian tradisional serta tabuhan tifa yang menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Wandan.
Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan representasi nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kehidupan masyarakat Wandan, Hadat atau hukum adat menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga tatanan sosial, penghormatan terhadap sesama, serta memperkuat ikatan persaudaraan.
Bagi masyarakat Banda Ely, kehadiran tamu merupakan sebuah kehormatan yang harus disambut dengan penuh penghargaan. Nilai itulah yang kembali diperlihatkan melalui penyambutan adat dalam peresmian Masjid Al-Mukarramah.
Bupati Titipkan Pesan Persatuan
Dalam sambutannya, Bupati Maluku Tenggara, Drs. Hi. M. Thaher Hanubun, menyampaikan pesan penting agar keberadaan Masjid Al-Mukarramah tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik yang megah, tetapi benar-benar dihidupkan melalui aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan.
Setidaknya terdapat tiga pesan utama yang dititipkan Bupati kepada masyarakat.
Pertama, masjid harus menjadi pusat ibadah yang hidup, tempat umat mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Kedua, masjid harus menjadi pusat pembinaan umat dan pembentukan karakter generasi muda, sehingga melahirkan masyarakat yang berakhlak, berilmu, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Ketiga, masjid harus menjadi pusat persaudaraan, kerukunan, dan kebersamaan antarumat beragama di Bumi Larvul Ngabal.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan rumah ibadah sejatinya tidak berhenti pada penyelesaian konstruksi, tetapi harus dilanjutkan dengan membangun kehidupan umat yang lebih baik, memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga harmoni dalam keberagaman.
Peresmian Masjid Al-Mukarramah akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda keagamaan. Momentum ini merupakan pertemuan antara nilai spiritual, warisan adat Wandan, dan semangat persaudaraan masyarakat Kei.
Setelah penantian panjang selama tujuh tahun, masyarakat Banda Ely kini memiliki rumah ibadah yang diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol kebersamaan lintas generasi.
Dari Banda Ely, pesan yang terpancar begitu jelas: ketika agama, adat, dan persaudaraan berjalan beriringan, maka pembangunan tidak hanya menghadirkan bangunan yang megah, tetapi juga memperkuat fondasi kehidupan masyarakat.(LM-10).










Discussion about this post