Jakarta – Komitmen memperkuat pembangunan desa pesisir melalui kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan terus diperkuat. Badan Pengurus Pusat (BPP) Mata Garuda LPDP melakukan audiensi dengan Sekretaris Jenderal Andy Artha Donny Oktopura di Gedung Mina Bahari I, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Selasa (7/7).
Pertemuan tersebut menjadi langkah strategis untuk membangun sinergi antara pemerintah dan komunitas intelektual penerima beasiswa LPDP dalam mendukung program prioritas nasional di sektor kelautan dan perikanan, khususnya Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Chief of Regional Office Mata Garuda LPDP, Amrullah Usemahu, mengatakan audiensi ini merupakan bagian dari komitmen Mata Garuda untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Dalam pertemuan itu, Sekjen KKP didampingi Kepala Biro Perencanaan Rudi Alek Wahyudin. Sementara dari Mata Garuda hadir para alumni dan awardee LPDP dari berbagai bidang keilmuan.
Mengawali arahannya, Andy Artha Donny Oktopura mengapresiasi semangat Mata Garuda LPDP yang menghimpun para intelektual muda penerima beasiswa negara untuk mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia melalui pengabdian dan kolaborasi.
Ia menegaskan, pengelolaan sumber daya kelautan harus berlandaskan amanat Pasal 33 UUD 1945, yakni dikuasai negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Kebijakan tersebut, menurutnya, sejalan dengan agenda Asta Cita pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Andy juga mengingatkan bahwa kebutuhan pangan dunia akan terus meningkat seiring proyeksi jumlah penduduk global yang mencapai 9,7 miliar jiwa pada 2050. Di tengah keterbatasan sumber daya daratan, sektor kelautan dan perikanan dinilai menjadi salah satu pilar utama ketahanan pangan masa depan.
“Ikan merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya omega-3 sehingga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujarnya.
Untuk memperkuat kontribusi sektor kelautan terhadap perekonomian nasional, KKP menjalankan sejumlah program prioritas periode 2025–2029. Selain Kampung Nelayan Merah Putih, pemerintah juga mengembangkan budidaya ikan darat tematik, revitalisasi tambak budidaya di Pantura Jawa, pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi, modernisasi kapal perikanan, hingga program swasembada garam.
Menurut Andy, Program Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Keberhasilan implementasinya di Kampung Samber Binyeri, Biak, Papua, menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kenaikan produksi dan pendapatan nelayan.
Pemerintah menargetkan pembangunan 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih di seluruh Indonesia dengan pendekatan berbasis klaster yang dikelola melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Program tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan hingga 2,82 juta ton per tahun, menciptakan sekitar 50 ribu lapangan kerja, serta meningkatkan rata-rata pendapatan nelayan menjadi sekitar Rp7,7 juta per bulan.
Sementara itu, Amrullah Usemahu mewakili Ketua Umum Mata Garuda LPDP menegaskan bahwa audiensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara komunitas akademisi dan pemerintah.
Menurutnya, Mata Garuda telah mengembangkan program Mata Garuda Membangun Desa, sebuah platform kolaborasi alumni LPDP yang menghadirkan solusi berbasis riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat guna mendukung pembangunan desa secara berkelanjutan.
“Program ini memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan Kampung Nelayan Merah Putih. Kami ingin memastikan pembangunan desa pesisir tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat kelembagaan masyarakat, mendorong inovasi teknologi, serta mengembangkan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” ujar Amrullah.
Sebagai tahap awal, Mata Garuda Membangun Desa telah menetapkan dua desa sebagai proyek percontohan, yakni Desa Urbinasopen di Provinsi Papua Barat Daya dan Desa Torosiaje di Provinsi Gorontalo.
Melalui kolaborasi tersebut, Mata Garuda akan berperan sebagai knowledge partner yang menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan hasil riset, inovasi, teknologi, serta jejaring nasional maupun internasional.
Pendampingan yang akan dilakukan meliputi peningkatan kapasitas nelayan dan pembudidaya, penguatan Koperasi Desa Merah Putih, pelatihan pengolahan hasil perikanan, pengembangan kewirausahaan, digitalisasi pemasaran, pemanfaatan energi terbarukan, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kepemudaan di desa.
Ke depan, sinergi antara Program Mata Garuda Membangun Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih diharapkan menjadi model pembangunan desa pesisir yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan kerja sama lintas sektor, di mana pemerintah menghadirkan arah kebijakan dan dukungan infrastruktur, sementara komunitas intelektual memperkuat inovasi, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan secara berkelanjutan.(LM-05)









Discussion about this post