Lensa Maluku, – Partai NasDem resmi menunjuk Abdullah Vanath sebagai Ketua DPW NasDem Maluku. Penetapan itu diumumkan langsung dalam rapat resmi DPW NasDem Maluku, Rabu (06/05/2026), dan langsung memicu spekulasi politik besar di Bumi Raja-Raja.
Langkah Vanath merebut kendali struktur partai wilayah dinilai bukan sekadar pergantian kepengurusan biasa. Sejumlah pengamat melihat ini sebagai manuver awal menuju perebutan kursi panas Pemilihan Gubernur Maluku 2030.
Di balik pengangkatan tersebut, hubungan politik antara Vanath dan Hendrik Lewerissa disebut-sebut mulai retak. Dua figur yang sebelumnya berada dalam poros yang sama kini dikabarkan tengah terlibat tarik-menarik pengaruh di lingkar kekuasaan Pemerintah Provinsi Maluku.
Sumber politik menyebutkan, ketegangan muncul setelah Vanath ngotot mendorong sejumlah pejabat asal Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) masuk ke jabatan strategis di lingkup Pemprov Maluku. Namun langkah itu kabarnya tidak mendapat lampu hijau dari Hendrik Lewerissa.
Perseteruan keduanya bahkan mulai terlihat terbuka di ruang publik. Salah satu momen yang menjadi sorotan terjadi saat Vanath dan HL menghadiri acara di salah satu hotel di Kota Ambon pada Agustus 2025 lalu. Usai kegiatan, HL terlihat langsung meninggalkan lokasi tanpa menyapa Vanath meski keduanya berada dalam forum yang sama.
Kini, dengan menguasai penuh struktur DPW NasDem Maluku, Vanath dinilai memiliki panggung besar untuk membangun mesin politik sendiri. Konsolidasi birokrasi dan penguatan jaringan loyalis disebut menjadi strategi utama untuk memperbesar pengaruh menjelang 2030.
Pengamat menilai, jika konsolidasi ini berjalan mulus, maka pertarungan politik Maluku ke depan bukan lagi soal koalisi partai semata, tetapi duel terbuka antara dua poros kekuatan besar: kubu Abdullah Vanath versus Hendrik Lewerissa.
Situasi politik Maluku pun mulai memanas. Aroma perebutan pengaruh menuju Pilgub 2030 kini semakin terasa.(LM-05)








Discussion about this post