Lensa Maluku, – Dinamika Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Buru yang sebelumnya diwarnai polemik rekomendasi ganda, kini mulai menemukan titik terang melalui proses islah yang melibatkan berbagai pihak.
Di balik upaya rekonsiliasi tersebut, muncul figur yang dinilai memainkan peran strategis, yakni Boy Sangaji (RBS).
Dalam situasi internal yang sempat memanas akibat tarik-menarik kepentingan, Boy (RBS) disebut menjadi jembatan komunikasi antara kelompok-kelompok yang berseberangan. Pendekatan yang mengedepankan dialog dan konsolidasi persuasif dinilai efektif meredam konflik serta membuka ruang kesepahaman.
Menurut Ian Eko Fandi Pattimura, S.H, kondisi ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh kader Partai Golkar. Ia menilai apa yang dilakukan Boy (RBS) merupakan sampel pergerakan politik yang menegaskan pentingnya eksistensi tokoh dalam proses konsolidasi partai.
“Peran tokoh menjadi penting dalam menjaga komunikasi dan membangun kepercayaan. Apa yang dilakukan Boy (RBS) menunjukkan bahwa eksistensi itu adalah bagian dari kebutuhan konsolidasi,” ujarnya.
Ian juga menegaskan bahwa konsolidasi Partai Golkar saat ini lebih membutuhkan ketenangan dan keteduhan, bukan lagi dinamika panjang yang dipenuhi konflik berkepanjangan. Meskipun dinamika merupakan hal yang lazim dalam tubuh Golkar, namun jika tidak dikelola dengan baik justru dapat melemahkan soliditas internal partai.
“Kita akui dinamika adalah bagian dari Golkar, tetapi hari ini kita butuh suasana yang teduh agar konsolidasi berjalan efektif, bukan konflik yang berlarut,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ian menyoroti pentingnya membangun eksistensi kader Maluku di tingkat nasional. Menurutnya, dalam konteks politik saat ini, kader-kader Golkar asal Maluku belum sepenuhnya berada pada tahap pertarungan ide dan gagasan, melainkan masih berada pada fase membangun eksistensi di panggung nasional.
“Kebutuhan kita hari ini secara politik nasional adalah bagaimana kader-kader Maluku, khususnya Golkar, bisa memiliki eksistensi terlebih dahulu. Dari situ, baru kita bicara soal ide dan gagasan,” jelasnya.
Ian juga menambahkan bahwa kemampuan Boy (RBS) dalam membangun networking pada level nasional diharapkan tidak hanya dimainkan dalam lingkup internal Partai Golkar semata. Lebih dari itu, jejaring tersebut perlu diekspansikan untuk mendorong pergerakan serta memperkuat eksistensi politisi-politisi muda Maluku di panggung nasional.
“Networking yang dimiliki harus menjadi jembatan yang lebih luas, bukan hanya untuk internal partai, tetapi juga untuk membuka ruang bagi politisi muda Maluku agar bisa tampil dan diakui di tingkat nasional,” tambahnya.
Ia bahkan menilai bahwa dinamika dan proses islah dalam Musda Golkar Kabupaten Buru menjadi bukti bahwa Boy (RBS) telah menunjukkan kapasitas dan kelayakan sebagai salah satu tokoh Golkar di Maluku.
“Musda ini menjadi pembuktian bahwa Boy (RBS) telah layak diperhitungkan sebagai tokoh Golkar Maluku, dengan kemampuan menjaga stabilitas sekaligus membangun arah konsolidasi ke depan,” pungkas Ian.
Dengan meredanya konflik melalui proses islah dan menguatnya peran tokoh dalam konsolidasi, diharapkan Partai Golkar Kabupaten Buru dapat kembali solid serta mampu melahirkan kader-kader yang tidak hanya kuat di tingkat daerah, tetapi juga siap berkiprah di kancah nasional.
Penulis:
Ian Eko Fandi Pattimura, S.H
(Okk DPD II Golkar Kabupaten Buru 2020–2025)









Discussion about this post