Lensa Maluku – Polemik terkait dugaan pembelian rumah pribadi senilai Rp1,5 miliar yang dikaitkan dengan penggunaan dana APBD kembali mencuat dan memicu perdebatan di ruang publik. Namun, politisi Alan Latuconsina menilai isu tersebut sarat spekulasi dan cenderung digiring tanpa dasar yang jelas, Selasa, 28/04/2026
Dengan nada tegas, Alan menyebut ada pihak-pihak yang sengaja “melempar batu sembunyi tangan”, menyebarkan tudingan tanpa disertai bukti yang valid. Ia menilai pola seperti ini bukan hanya menyesatkan, tetapi juga merupakan bentuk tindakan tidak bertanggung jawab yang berpotensi merusak tatanan informasi publik.
“Isu pembelian rumah pribadi Rp1,5 miliar dengan asumsi menggunakan dana APBD itu harus dibuktikan, bukan sekadar dilempar ke publik. Jangan ada pihak yang sengaja melempar batu sembunyi tangan. Ini bentuk kejahatan opini yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegas Alan.
Sebagai kader Partai Amanat Nasional (PAN), ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat harus diiringi tanggung jawab moral dan hukum. Menurutnya, menyebarkan narasi tanpa dasar yang jelas sama saja dengan membangun propaganda yang dapat menyesatkan masyarakat luas.
Alan juga secara khusus menyoroti dampak negatif dari narasi liar yang terus digulirkan. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut dapat mengganggu fokus pemerintah daerah, terutama di tengah upaya percepatan pembangunan yang sedang dijalankan oleh Bupati Buru Selatan, La Hamidi.
“Stop memberikan narasi liar yang tidak mendidik. Pak Bupati La Hamidi saat ini sedang fokus pada pembangunan daerah. Bagaimana kita mau berkembang seperti daerah lain kalau kita hanya termotivasi oleh narasi dan propaganda yang tidak benar?” ujarnya.
Lebih lanjut, Alan juga menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya berita hoaks yang terus beredar di tengah masyarakat. Ia mengaku sangat menyesalkan praktik penyebaran informasi yang tidak akurat dan cenderung memprovokasi publik.
“Sebagai politisi PAN Bursel, saya sangat sesalkan berita-berita hoaks yang sering disampaikan. Saya berharap publik tidak mudah termakan isu-isu yang sengaja dimainkan untuk memecah belah, apalagi sampai memperlambat proses pembangunan daerah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu benar. Menurut Alan, menjaga persatuan dan fokus pada kemajuan daerah merupakan tanggung jawab bersama.
Alan juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan seperti HIPMA Bursel, untuk tetap kritis namun objektif dalam menyikapi setiap informasi yang beredar. Ia menekankan pentingnya verifikasi sebelum menyampaikan tudingan ke ruang publik.
“Silakan kritik, itu bagian dari demokrasi. Tapi harus berbasis data dan fakta, bukan asumsi. Kalau tidak, itu justru menciptakan kegaduhan dan merugikan daerah kita sendiri,” tambahnya.
Alan juga mengingatkan bahwa penyebaran informasi yang tidak benar berpotensi memiliki konsekuensi hukum. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak untuk lebih berhati-hati dan tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya.
Menutup pernyataannya, Alan Latuconsina kembali menegaskan pentingnya menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah demi kelancaran pembangunan di Buru Selatan.
“Buru Selatan tidak akan maju kalau kita terus terjebak dalam sensasi dan propaganda. Yang kita butuhkan adalah kerja nyata dan dukungan bersama. Mari hentikan hoaks dan fokus pada pembangunan,” pungkasnya. (LM-10)









Discussion about this post